Jogja Nol Kilometer--3
Jogja Nol
Kilometer
Menjadi akhir dari malam minggu yang panjang
ini. Titik Nol Jogja bukanlah menjadi agenda kami. Namun, entah mengapa, rasa
capek, lelah, senang, bingung, membuat kami lupa bahwa waktu sudah menunjukkan
pukul tengah malam. Titik nol masih ramai, tapi kami kebingungan untuk pulang.
Bukankah Trans Jogja cuma sampai jam sembilan malam. Dan taksi, kami tidak tahu
apakah masih ada armada yang beroperasi.
Ada satu titik yang menjadi penentuan jarak
antar daerah di Jogjakarta dan dengan kota lain di luar DIY. Titik tersebut
disebut dengan Titik Nol Kilometer. Lokasinya tepat di depan kami duduk. Sebuah
perempatan di selatan Malioboro. Yaitu, pertemuan Jalan A. Dahlan, Jalan
Senopati, Jalan A. Yani dan, jalan menuju Alun-alun Utara. Tepat di depan
Monumen Serangan Satu Maret. Dan kami duduk menghabiskan malam dengan penduduk
kota Jogja lainnya serta musisi jalan dan para penjual makanan.
Sembari duduk di bawah patung gajah raksasa.
Aku melihat bahwa kawasan nol kilometer ini dikelilingi dengan gedung yang
masih berbentuk kuno. Seperti peninggalan zaman kolonial. Misalnya Bank BNI dan
Kantor Pos yang bentuk gedungnya kuno dan sepertinya penuh sejarah. Dari hasil
googling aku menemukan ini tentang Nol Kilometer.
Kawasan di
sekitar titik nol kilometer ini merupakan kawasan wisata sejarah. Di
kiri-kanan, ada bangunan-bangunan kuno yang sering juga disebut loji. Yakni,
bangunan-bangunan tua yang besar peninggalan Belanda. Kawasan nol kilometer
juga menjadi sentra perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta, karena letaknya
yang strategis. Sebut saja Kawasan Malioboro, Pasar Beringharjo, kawasan Jalan
Kyai Ahmad Dahlan, serta kawasan Jalan Wijilan yang selalu dipadati
wisatawan. Pada malam hari, sepanjang trotoar sekitar perempatan Jalan
Jendral Ahmad Yani dan Jalan KH Ahmad Dahlan menjadi tempat nongkrong
menghabiskan malam. Banyak komunitas juga berkumpul untuk mencari inspirasi dan
menyalurkan bakat dengan berekspresi.
Kawasan
Titik Nol Kilometer sering difungsikan sebagai area berkumpul dan
penyelenggaraan event budaya atau even lainnya. Di antaranya, FKY dan Komunitas
hobi. Ada berapa daya tarik di sekitar Titik Nol Jogja. Antara lain: Museum
Benteng Vredeburg, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Taman Pintar, Gedung Agung, Gedung
Senisono, Gebung BNI, Gedung Bank Indonesia (BI), Kantor Pos Besar, Museum
Sonobudoyo, Pasar Beringharjo, Pecinan Ketandan, Jalan Malioboro, Jogja Gallery, Alun-Alun
Utara dan Keraton Yogyakarta, Monumen SO 1 Maret, Jam kota/stadtklok dan Gaug
(sirine kuno), Pasar Buku Shooping. (selengkapnya di sini )
Dan memang sepanjang jalan kita bisa
menemukan anak-anak muda yang nongkrong dari kelompok kecil sampai
komunitas-komunitas seperti komunitas motor gede dan penggemar motor vespa.
Juga penjual makanan ringan seperti mie rebus dan siomay, pengamen jalanan,
juga waria. Komplit ramenya. Di depan patung gajah kami melihat perkumpulan
yang mungkin sedang mengadakan pengumpulan dana untuk sesuatu (aku lupa).
Malam panjang malam minggu ini berakhir pukul
02.00 pagi, persis ketika kita sudah kebingungan karena berpindah ke tempat
yang salah untuk nongkrong, dan ketika adik Sinta datang menjemput. Maka
berakhirlah malam panjang ini. Malam panjang yang penuh cerita.
Yogyakarta, Mei 2015



Comments