Cerita 1 : Baju Adat dan Kemendikbud



Overall, i like PK... Sudah lama aku menantikan saat-saat itu. bertemu dengan orang-orang hebat, maksudnya bukan hanya pematerinya, tapi juga teman-teman, panitia dan tentu saja PIC nya yang luar biasa. 

Ini cerita hari-hariku di sana. 

Aku baru pertama kali bepergian ke ibukota, juga dengan naik kereta. Suatu hal yang pernah aku impikan. Well, yeah. Going to Jakarta is not my dream. I just think if i can go there someday. Jadi semua terasa biasa saja. Yang tidak biasa adalah kejadian-kejadian yang sudah aku bayangkan. Misalnya tentang Wisma Hijau. 

Ada insiden lucu sebelum berangkat. Kami dari Jogja ber-25 hampir saja ketinggalan kereta. Sepertinya itu semua salahku. Aku masih menjadi orang yang lamban (dulu juga sih) dengan kaki dipasangin pen dan menggunakan satu cructh. Kebiasaanku adalah menyiapkan segala sesuatu di detik-detik keberangkatan. Jum’at itu aku pergi kuliah sampai jam 1 siang. Begitu pulang masih ada dua jam untuk bersiap-siap. Namun semua pakaian belum aku setrika. Sekoper. Jadi, setengah empat baru semua beres. Aku mandi 5 menit dan bersiap sepertinya tidak lebih dari dua puluh lima menit. Lalu kami segera berangkat. Tidak tahu mengapa waktu cepat sekali berlalu, tahu-tahu sudah setengah 5 sore dan kereta akan segera berangkat. Tiket 25 orang berada di rombongan kami yang terdiri dari cewek-cewek. Bisa kalian bayangkan betapa paniknya mereka yang sudah berada di stasiun ( kami juga sih). Begitu sampai 5 menit, kereta datang. Aku tidak tahu bagaimana caraku berjalan cepat dengan satu cructh  ke kereta. Alhamdulillah, Allah masih mau kita tidak terlambat ke Jakarta. 

Menurutku kami datang terlalu cepat. h-2. Kami tinggal di penginapan, dan kamarku di lantai 2. Sepanjang perjalananku ke sana, hanya koperku yang aku pikirkan. Siapa yang mau berbaik hati mengangkatnya untukku. Kalian tahu kan kalau aku belum bisa berjalan normal. Selama dua hari kami berlatih di penginapan untuk PK. Sebenarnya aku menganggap itu cukup membuang waktu. Tapi ternyata ada gunanya juga latihan dari h-2. 

Hari H, 19 Oktober 2015 pukul 03.00 dini hari kami sudah mengenakan dresscode baju adat. Lagi-lagi, hanya koperku yang aku pikirkan. Kali ini siapa lagi yang akan mengangkatkan koperku ke bawah.  Thanks to Kak Iin. Kami berangkat ke Wisma Hijau. Yeheeeee! Dan the real PK pun dimulai. 

Jam 7 pagi kami bertemu dengan PIC. Aku takjub sama cara berpikirnya. Luar biasa sehingga dia dipercayakan untuk menjadi penanggung jawab kegiatan yang membekali para awardee sebelum berkuliah. Dia tegas tapi juga baik. Aku bisa melihat itu. Ada satu insiden dimana dia menunjukkan kebaikannya juga ketegasannya. Misalnya selama satu jam kami di aula dengan AC dimatikan. Kami mengenakan baju adat dan oksigen yang terbatas. Aku sebenarnya ingin mengeluh, tapi ternyata dengan bersabar semua rasa panas itu hilang. Hehehe... Apa hikmahnya? Menurutku dia ingin memberi tahu pada kami tentang follow the rules.
 
Jam 12 lewat akhirnya kami berangkat ke Kemendikbud untuk pembukaan dan bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan. Ini adalah salah satu hal yang membuatku menangis dalam hati. Bukan hanya karena aku bisa melihat langsung sosok Anies Baswedan, tapi juga penyesalan dalam karena tidak mau berjuang menunda PK dengan kondisi kaki seperti ini. 

Jadi kami naik kesana dengan bus, ini tidak masalah meskipun pintu masuknya cukup tinggi. Aku masih bisa naik. Yang aku sedihkan adalah jalan masuk ke aula-nya. Mungkin ada satu kilo aku berjalan dengan kakiku dan kruk-ku. Di pertengahan jalan, ketua kelompokku menyarankanku berhenti untuk beristirahat. Sebenarnya aku lelah juga. Kakiku membengkak. Tapi aku benar-benar kesal sama keputusanku. Jadi aku berhenti untuk minum karena air mataku diam-diam sudah jatuh. Aku menyesal kenapa aku tidak kekeuh untuk pindah PK, setidaknya sampai aku bisa berjalan normal. Dan aku sedih, karena semua orang berjalan cepat sekali. Dan aku tidak. Astagfirullah. Ya Allah, aku hanya bisa bersabar dan berjalan kembali. 

Dan kesedihanku sirna sejenak setelah bertemu bapak menteri. Dia mengajarkan kami tentang arti seorang pemimpin. Yang menurutku aku belum memiliki salah satu cirinya (banyak sih) yaitu memiliki followers yang mengikuti kita karena rasa percaya. Masih banyak petuah yang beliau berikan. Sebuah keberuntungan untuk kami bisa diberikan wejangan yang menambah semangat kami dalam menyusuri jalan-jalan kehidupan. Thank Pak Anies. 

Di dalam aula kemendikbud dengan dibalut pakaian adat khas sulawesi tenggara, aku melupakan sejenak kesedihanku, kekesalanku. Aku juga bertekad tidak akan kalah hanya karena keterbatasanku ini. Aku harus berjuang menyelesaikannya sampai akhir, sendirian. 

Di perjalanan pulang aku dipandu salah satu panitia, dan ditemani beberapa orang yang menjadi orang terakhir yang naik ke bus. Thanks ya. 

Sampai di Wisma Hijau aku berjalan sendirian ke kamarku. Saat itu aku belum sadar kalau diantara semua kamar perempuan, kamarku adalah yang paling jauh dari aula. Meskipun rasanya itu tidak adil, tapi aku berpikiran positif. Mereka menganggapku ‘normal’. Mungkin..

To be continued
Selamat malam...
Kaliurang KM 4,5 
Galeri : 


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea