Diperebutkan Gordis dan Galau
Malam ini aku terbangun dengan niat untuk membuka
buku epidemiologi yang ditulis oleh Gordis. Bukunya ditulis dengan menggunakan
bahasa Inggris, ya tentu saja sih, wong
Gordis adalah orang asing. Meski demikian, bahasa yang digunakan Gordis untuk
menulis buku itu tidak begitu sulit untuk dipahami. Hal ini menambah semangat saya
untuk meng-khatamkannya.
Segelas kopi Goodday ditambah sari roti sudah
lengkap menemaniku untuk melanjutkan membaca buku Gordis. Paduan rasa mocacino
dan lezatnya coklat di dalam roti sebenarnya sudah mengusir rasa kantukku. Aku
sudah tidak mengantuk lagi. Semangat sudah tersulut. Mataku sudah terarah pada
deretan huruf, angka, dan grafik-grafik yang indah dari buku Gordis ini. Sayang
sekali pikiranku sedang tidak di tempat. Kegalauan kenapa justru datang di saat
aku ingin berduaan saja dengan buku. Kemakah pikiranku saat ini sedang pergi??
Tidak kemana-mana sih. Masih di sini. Di tempat berdiri peninggalan sejarah indonesia.Sebuah tempat yang menjadi mimpiku untuk kemari dan belajar. Tapi justru di tempat ini, setelah di tempat ini, aku sadar bahwa semangatku pelan-pelan tergerus oleh kelelahan.
“Kamu ngerjain tugas yang mana?” Suara tuts keyboard
yang ditekan-tekan oleh jari-jariku yang indah--kata orang menarik perhatian teman kamarku yang baru saja
menyelesaikan salah satu dari sekian ribu tugas mahasiswa pascasarjana semester
awal.
“Nulis kak,” jawabku sambil cengengesan disusul
ekspresi terkejut darinya.
“What? Kamu bangun tengah malam cuma untuk nulis?”
Aku hanya nyengir. Dan banyak berpikir. Untuk
seseorang yang mengaku ingin menjadi seorang penulis, bangun ditengah malam dan
menulis cerita adalah hal yang biasa. Namun rupanya aku belum memiliki
ciri-ciri itu mengingat teman kamarku yang sudah dua bulan lebih tinggal
bersamaku tidak pernah tahu aku melakukan aktivitas less sleep untuk menulis. Sehingga wajar jika dia berekspresi itu.
Meskipun aku awalnya mengira ia akan berceletuk seperti ini,
“What? Di saat orang membaca buku Gordis, Rosnes,
Asschengrau, dan lain-lain, kamu malah menulis cerita galaumu tentang hidup?”
Ya. Itu jauh lebih mengenaskan ketika misalnya orang
lain mulai menyadari aku sedang galau karena meskipun sudah berada di tempat yang aku inginkan namun semangat seperti pertama kali datang itu sepertinya sedang sembunyi. Dan jauh lebih mengenaskan lagi ketika hidup yang seharusnya tidak terlalu kau pikirkan (just let it flow) itu membuatmu teralihkan dari indahnya tulisan-tulisan sarat makna dan rumus dari
Gordis dkk itu tidak mengetahui perbuatannya. Lalu tinggallah aku di sini
kebingungan dan berteman galau.
Jadi, jangan heran jika tiba-tiba saja jiwa
penulisku keluar dan mulai merangkaikan kata-kata di sini, di tempat ini,
sebagai pembunuh rasa galau. Sebab kata mereka, jika kau ingin bercerita dengan suara tapi tak sanggup, maka menulislah.
Eaaa...
Oke, selamat malam semuanyaaaa...
*dan akhirnya aku ngepost lagi disini meskipun masih curhat :(
Comments