saat dimana kamu tidak ingin bertemu orang lain.

        
  

 Dia selalu akan menjadi tidak bersemangat ketika tidak ada yang memperhatikannya.
            

 Sejak kecil, satu hal yang membuatnya bisa berdamai dengan rasa depresinya adalah membaca buku. Saat membaca buku, dia bisa menghilang sejenak dari realita hidup yang menyesakkan. Tidak pernah mengucapkan “mama” dan “papa” untuk beberapa tahun lamanya. Dia bisa pergi ke dunia yang tidak menyenangkan untuknya. Dunia yang baru. Dia merasa tenang, dan menjadi betah berlama-lama di dalam kamar dengan buku-buku. Atau berlama-lama di perpustakaan dengan buku yang sangat banyak. Yang tidak akan habis dibacanya dalam sehari. Sehingga kadang diam-diam dia mengumpulkan banyak buku di kamarnya dari perpustakaan tentunya.
             
Stok buku di perpustakaan tidak banyak. Kadang, dia terpaksa membaca kembali kisah yang sudah pernah dibacanya. Dan selalu menarik di bacaan kedua kalinya. Seperti mengunjungi teman lagi, dan dia menjadi paham mengapa ceritanya seperti itu. dan dia menjadi berpikir bagaimana jika dia bisa menulis hal-hal seperti itu.
              
Belum sempat menindaklanjuti apa yang pernah di pikirkannya, dia mengalami sebuah kejadian yang memukulnya hebat. Saat itu, dia sedang berdiam di dalam perpustakaan. Menikmati tenggelammnya dirinya pada sebuah cerita seru di antara tumpukan buku-buku. Lalu, samar tercium bau yang sangat menusuk. Dia berlari keluar segera. Tapi yang di dapatinya adalah asap-asap yang menyebar dimana-mana. Samar ia melihat seseorang dengan masker di salah satu sisi sekolahnya. Aneh, tidak ditemukannya teman-teman sekolah beserta guru-gurunya. Karena khawatir dan takut, dia segera berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Cepat-cepat ia melangkah. Takut. Namun, di tengah perjalannya menuju rumah ia teringat sesuatu. Tas sekolahnya dan apa yang harus ia katakan kepada bibinya. Ia memutar otakknya kemudian bergegas kembali menuju sekolah. Di jalan kembalinya, ia dikejutkan dengan suara motor vespa. Pak Gurunya yang memakai kacamata berhenti menegurnya.
           
 “Kenapa jam segini di luar sekolah?”
             
Dengan gugup, dia menjawab polos. “Ada asap di sekolah, Pak.”
            
Pak Guru pun tertawa lebar. Beliau memintanya untuk naik ke motor. Beliau akan mengantarnya kembali ke sekolah. Aneh, sesampainya di sekolah. Asap itu telah hilang dan teman-temannya sudah kembali. Tentu saja dengan menertawakan dirinya yang dibonceng Kepala Sekolah dengan motor vespanya. Setelah itu ia tahu kalau saat itu sedang ada penyemprotan nyamuk. Dan karena dia berdiam di dalam perpustakaan sehingga dia tidak mengetahui apapun.
            
 Jadi, pelajaran apa yang bisa dia petik?
             
Selalu merasa nyaman sendirian tidaklah bagus. Kita adalah makhluk sosial dimana membutuhkan interaksi dengan orang lain. Seperti tulisan Elisabeth Gilbert (penulis novel Eat, Pray and Love) dalam sebuah tulisan yang tidak dipublikasikan tentang perjalanannya di sebuah desa di NTB, Indonesia. Saat itu dia memilih mengisolasi diri dari masalah hidupnya. Namun, yang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan itu dia sadari saat sakit di desa tersebut. Dia tidak keluar kamar, dan tidak ada yang mengenalinya di sana karena ia tidak bersosialisasi. Namun, ada seorang perempuan muslim yang setiap hari selalu melihat Elizabeth. Hingga hari dimana ia tidak muncul, perempuan muslim itu pun mengunjungi tempat Elizabeth. Mengetahui Elizabeth sakit, dia datang membawa makanan dan menghiburnya. Saat itulah perempuan muslim itu berkata, “Jangan sendirian dan jangan sombong. Lihat orang lain dan biarkan diri kamu terlihat oleh orang lain. Bantu orang lain dan biarkan dirimu dibantu orang lain. Buat kontak dan terbuka untuk kebaikan orang lain.”
             
Seperti itulah seharusnya gadis kecil itu sadar. Meskipun punya banyak teman, dia tidak mudah membiarkan dirinya terbuka kepada orang lain. Karena yang pertama kali mengulurkan tangan untuknya adalah buku-buku itu. Cerita-cerita kehidupan dari dunia fiksi yang membantunya berdamai dengan lukanya sendiri.

In my comfort room, Sendowo

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y