The Physician dan Fiksi Sejarah Ibnu Sina



Terlalu tertarik pada dunia fiksi membuat hanyut dalam sebuah fiksi mengenai ilmu kedokteran di masa lalu. Berasal dari novel ber-genre sama dengan “Da vinci Code”-nya Dan Brown, Noah Gordon hadir dengan The Physician atau der Medicus yang kemudian di filmkan. Selayaknya film barat yang sering membolak-balikkan sejarah islam, seperti The Dracula Untold, maka di film ini barat menunjukkan kebaikannya dengan menyajikan sejarah yang lumayan mirip dengan sejarah aslinya. Karena pada dasarnya ini adalah fiksi maka jangan dianggap sejarah sebenarnya. 
 
Bercerita mengenai Rob Cole, seorang tukang cukur atau ‘barber’ dari Inggris yang terpukau dengan ilmu penyembuhan penyakit dari kelompok Yahudi yang melintas di Inggris saat itu. Rob sudah tertarik dengan kesehatan saat ibunya meninggal tanpa pengobatan apapun. Ia kemudian bergabung dengan seorang tukang cukur yang pada abad ke 11 di Inggris dianggap mampu mengobati beberapa penyakit seperti menyatukan tulang yang patah, mencabut gigi dan parahnya menganggap kencing kuda sebagai tonik. Saat melihat bagaimana orang Yahudi itu menyembuhkan katarak dari bos-nya, dia pun tertarik sekali untuk mempelajarinya. Para Yahudi itu belajar di negeri sebelah Timur yang saat itu jauh sekali dari Inggris. Perlu waktu setahun untuk tiba di sana. Di sana, para Yahudi belajar dari seorang guru bernama Ibnu Sina di negeri Isfahan yang dipimpin oleh Shah Ala Ad Daulah. Ibnu Sina adalah bapak kedokteran modern yang sangat terkenal, seorang filsuf dan juga ilmuwan.

Isfahan digambarkan sebagai kota yang megah dan ramai serta bertoleransi dengan agama lainnya, seperti Yahudi. Sehingga untuk bisa masuk ke dalam Isfahan, Rob Cole berpura-pura menjadi Yahudi dan melakukan sunat pada dirinya sendiri. Perjalanan Rob Cole mencari ilmu pengetahuan tidak mudah. Ia harus kehilangan segalanya dalam badai pasir. Sebelum itu, dia ikut pada rombongan pengantar seorang wanita Yahudi yang cantik. Rebecca mengenalkannya pada sebuah buku 1001 malam. Yang aneh disini adalah pengenalan 1001 malam yang tidak tepat. Sebab buku 1001 malam baru hadir dalam The Arabian Night yang baru hadir pada abad ke 18. 

Setelah tiba di Isfahan, Rob Cole akhirnya bisa bertemu dengan Ibnu Sina yang memiliki sebuah madrasah dan rumah sakit di dalamnya. Ibnu Sina dan murid-muridnya digambarkan tidak terlalu didukung oleh Shah, fakta sejarahnya Ibnu Sina sangat di dukung oleh Shah di masanya. Bukan dituduh sebagai pengemban ilmu hitam. 

Selain itu, dalam adegan Rob Cole yang penasaran dengan isi dalam tubuh manusia sejak melihat gambar Yesus di salib sehingga kemudian dia melakukan pembedahan tubuh manusia pada pria bernama Qasim. Qasim adalah seorang penganut Zoroaster atau penyembah matahari. Sebelum meninggal dia meminta pada Rob Cole agar jasadnya ditaruh di atas menara sehingga mayatnya bisa di makan oleh burung-burung. Rob Cole menangkap itu sebagai satu kesempatan baginya untuk melihat tubuh manusia. Kenyataannya, Ibnu Sina sudah lebih dahulu mengetahui anatomi tubuh manusia. Sehingga adegan di penjara antara Rob Cole dan Ibnu Sina mungkin dapat diartikan beliau ingin mengetahui bagaimana tanggapan Rob Cole terhadap tubuh manusia yang baru dilihatnya.

Layaknya film-film lain yang selalu menonjolkan peran pemeran utama. Maka, pada adegan dimana Shah menderita usus buntu, Rob Cole yang lebih berperan seperti dokter ahli bedahnya. Sementara Ibnu Sina hanya sebagai “asisten” dokter bedah. Meskipun tidak suka, namun karena ini adalah proyek barat maka kita tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa kita lakukan adalah membuat film yang memiliki rating sehebat Hollywood dengan kisah islam yang sebenarnya.

Hal yang lainnya adalah yang tidak kalah berbeda adalah pemilihan Isfahan sebagai setting novel. Ibnu Sina di dalam sejarah tidak tinggal di Isfahan melainkan di Hycrania Persia. Dan beliau meninggal di Hamedan Persia. 

Menarik untuk dibahas dan sering ditulis dalam review dari film yang rilis tahun 2013 ini adalah bagaimana akhir film yang menggambarkan kebakaran di madrasah Ibnu Sina. Meskipun terdapat pertentangan dimana akhir hayat Ibnu Sina digambarkan mati dalam kebakaran. Faktanya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena suatu penyakit di dalam madrasah saat sedang mengajar. Pada saat kebakaran tersebut, Ibnu Sina memberikan sebuah buku pada Rob Cole yang semua orang menduga dan bertanya-tanya mungkinkan itu adalah buku The Canon of Medicine yang merupakan standar medis di banyak perguruan tinggi zaman modern. 

Beberapa perbedaan yang disajikan dalam novel dan film Noah Gordon tersebut merupakah hal sering kita lihat dalam produksi barat. Seperti film The Dracula Untold yang jika dibandingkan dengan buku Felix Siauw berjudul Ghazi cukup jauh berbeda. Namun, untuk film ini patut diapresiasi karena Barat mengakui secara jujur bahwa pada zaman dahulu Islam memimpin dunia dengan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat. Yaitu dengan mengakui bahwa Ibnu Sina adalah dokter dan ilmuwan yang terkenal dan memperkenalkan pengobatan dan rumah sakit pada dunia Barat. Beliau digambarkan sebagai dokter yang penuh etika dengan selalu menghargai pasien sebelum memberikan perawatan. “Salam, saya Ibnu Sina, dengan izinmu saya akan merawatmu.”

Usaha Barat tersebut seharusnya meningkatkan usaha kita untuk menyebarkan syiar Islam melalui film sehingga banyak orang yang mungkin akan menerima dengan mentah-mentah sajian visual Ibnu Sina. 

Sekian. Manusia tidak luput dari kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah. Penulis hanya mencoba menyampaikan pemikiran yang terlintas.


Jogja, 15  Maret 2016
di ruang kelas yang dingin

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y