ESKAEM : Are We Make An Impact???



 
(Source image : research.northumbria.ac.uk)

 

Keberadaan kesehatan masyarakat dalam lingkup dunia kesehatan sudah ada sejak saat bagaimana Charles Edward Winslow memperkenalkannya kepada dunia di tahun 1920. Kesehatan masyarakat terus berkembang juga pada saat John Snow yang seorang analis kesehatan menemukan bagaimana ilmu epidemiologi sebagai salah satu ilmu dalam kesehatan masyarakat menjelaskan bagaimana sebuah kasus penyakit infeksi bernama kolera menderita rakyat inggris.
Dahulu ilmu kesehatan masyarakat hanya dikhususkan untuk mahasiswa strata dua. Namun seiring “kebutuhan” dunia kesehatan akan keberadaan kesehatan masyarakat dengan bermunculan dan meningkatnya jumlah penyakit akhirnya mulai berdiri sekolah-sekolah kesehatan masyarakat untuk jenjang strata satu. Saking “butuh”nya dunia kesehatan terhadap lulusan kesehatan masyarakat, di seluruh pelosok Indonesia berdiri sekolah tersebut. Setiap tahun bisa ratusan ahli kesehatan masyarakat yang dilahirkan. Siap berperan dan beraksi dalam dunia preventif kesehatan dunia khususnya Indonesia.
Pertanyaannya, apakah kita sudah memberikan dampak terhadap pencegahan masalah kesehatan di Indonesia? Mengingat Indonesia masih “tidak tahu” apa sebenarnya yang dilakukan ribuan lulusan kesehatan masyarakat ini untuk dunia kesehatan.
Konsep ketidaktahuan masyarakat terhadap ahli kesmas bukan berarti bahwa dalam proses pengendalian berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan yang ada di Indonesia tidak dilakukan oleh ahli kesmas. Namun, pekerjaan riil yang mereka lakukan sebenarnya kalah pamor dengan profesi kesehatan lain seperti dokter dan bidan yang pengabdian mereka nyata dengan berkurangnya jumlah orang sakit dan banyaknya bayi yang lahir. Yang tidak mereka tahu adalah bagaimana berbagai macam keputusan yang dibuat pemerintah melalui kerja keras ahli kesehatan masyarakat dalam mengumpulkan data dan menganalisisnya sehingga menghasilkan sebuah bukti nyata yang menunjang pembuatan keputusan.
Apakah kita sudah memberikan dampak untuk dunia kesehatan di Indonesia?
Pertanyaan yang sulit untuk di jawab mengingat ribuan lulusan kesehatan masyarakat masih banyak yang menganggur dan bahkan pindah aliran ke dunia kerja lain yang lebih realistis. Beberapa menghilang di antara tuntutan zaman modern bahwa hidup bukan sekedar memiliki niat tulus untuk melakukan perubahan tetapi juga membutuhkan uang untuk membeli makanan. Miris memang. Ketika semua yang kita perjuangankan selama empat tahun berakhir dengan memilih jalan lain. Seolah sejak awal kita sudah memilih jalan yang salah.
Ada seseorang yang mengatakan sebuah kalimat yang menurut saya sangat benar. Bagaimana Indonesia menjadi negara kuratif, negara yang melakukan banyak praktek penyembuhan, di tengah-tengah banyaknya sarjana kesehatan masyarakat yang lahir dari berbagai perguruan tinggi di nusantara ini. Kemana mereka semua sehingga sampai saat ini untuk menurunkan angka kematian ibu masih menjadi kendala yang berarti. Kemanakah mereka semua sehingga malaria masih menjadi momok bagi daerah-daerah endemis? Kemanakah mereka sehingga bayi lahir dengan berat badan rendah masih banyak?
Yah, ini sebuah pertanyaan yang lucu. Ketika saat hari pertama kuliah (lagi) malah dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa langkah nyata kami sangat dinantikan oleh segenap bangsa indonesia. Bagaimana kami akan mengubah negeri melalui jalur preventif. Menanggulangi dan mencegah penyakit serta masalah kesehatan yang mengantarkan pada kemajuan bangsa. Bisakah kita menunjukkan bahwa sebenarnya banyak ahli kesehatan masyarakat yang bekerja mati-matian untuk mewujudkan itu? Bisakah kita menunjukkan bahwa sebenarnya ada dampak yang terjadi pada kerja keras kita? Dan bisakah kita membuktikan bahwa masih banyak dari kita yang tidak lari kenyataan meskipun yeah kita juga memilih sekolah lagi sih (hehe).
Well, apapun itu sebenarnya semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tinggal bagaimana kita menjalaninya dengan hati bahagia. Karena kunci dari kebahagiaan adalah menjalaninya dengan penuh keikhlasan.

Jalan Kaliurang, 22 September 2015

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y