EPIDEMIOLOGI : DIBALIK MEJA DAN DILUAR MEJA



            Kalau kalian pernah nonton film Get Smart yang menceritakan tentang seorang analis yang harus bekerja di lapangan sebagai agen mata-mata, kalian pasti tahu bagaimana perasaan Max Smart yang diperankan Steve Carrel ingin menjadi lebih dari sekedar analis. Menganalisis gerak-gerik musuh negara memang mudah untuknya. Namun, menurut agen-agen rahasia yang bekerja di lapangan dan bertemu langsung dengan penjahat dan pembunuh tentu berbeda dengan apa yang ditulis di atas kertas. Oleh karena itu, Max berniat ingin menjadi agen lapangan juga meskipun kemampuan bela diri yang masih minim. 

            Di dunia ini selalu ada yang berperan demikian. Misalnya antara penyanyi dan pencipta lagu. Lagu yang bagus didukung dengan kemampuan vokal dari penyanyi yang bagus maka akan menghasilkan maha karya yang luar biasa. Tapi, selalu saja yang paling tenar di masyarakat adalah penyanyinya. Meskipun mungkin bayaran pencipta lagu akan tinggi juga. Pun seperti aktris/aktor dan penulis naskah. Biasanya yang akan dikenal masyarakat adalah aktris/aktornya meskipun penulis naskah tidak kalah pamor juga. 

            Kemarin, di hari pertama masuk kembali di dinas, saya langsung dihadapkan dengan kasus kejadian luar biasa. Kali ini, kasus yang dihadapi berbeda dari biasanya. Kalau biasanya kami menangani kasus keracunan makanan, maka kali ini adalah kasus kejadian diare. Menurut warga yang menderita penyakit tersebut tidak ada hajatan besar dalam waktu dekat dengan kejadian peningkatan kasus diare. Maka kami menyimpulkan ada hal lain yang menjadi sumber penyebab kejadian diare. Untuk mengetahui hal tersebut, kami berkeliling desa dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menemui penderita dan melihat kondisi lingkungan sekitar. Tak tanggung-tanggung kami berkeliling hingga tiga RT. Ya meskipun dua RT lainnya dijangkau dengan kendaraan sih.

            Saat itu matahari bersinar cukup tidak bersahabat. Sejak pergi dari dinas, udara panas jogja sudah menyengat kulit. Wajar sih soalnya itu jam 12 siang. Kemudian sampai di Puskesmas kita berganti naik ambulans ke lokasi kejadian. Disana kita berkeliling rumah-rumah warga yang sakit dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh. Sabar. Itulah mental yang harus dimiliki oleh seorang epidemiolog. Sabar dalam menghadapi analisis yang membingungkan hingga sabar dalam mengelilingi suatu daerah demi mencari sumber penyebab penyakit.

            Di saat kelelahan tersebut, salah seorang pegawai dinas memberikan candaan padaku.

“Kenapa ci? Capek? Jangan mikir kamu salah masuk jurusan, ya?”

Aku tertawa keras mendengarnya. Iya, kayaknya aku salah masuk jurusan deh. 

“Nanti S3 kamu ambil ekonomi aja, biar duduk dibelakang meja terus,” sambungnya dengan masih bercanda. 

Mungkin benar yang dikatakan oleh pegawai itu. Aku memiliki fisik yang lemah untuk ukuran perempuan yang harus setrong di FETP. Aku capek sedikit udah langsung ingin istirahat. Padahal seorang field epidemiologist harus tahan banting. Habis keliling desa nyari data dan sumber penularan, pulang-pulang langsung di analisis biar cepet ketahuan apa penyebab suatu kejadian penyakit sebelum hasil laboratorium keluar. Dan aku?

Aku bisa kok!

“Tapi, kalau tadi kamu pingsan, Ci. Terus minta digendong. Tak tinggal, kamu.”

Tawa ku keluar lagi. 

Ya. Meskipun lelah yang hampir mengambrukkan punggungku karena harus berjalan kaki dari rumah ke rumah dengan memikul laptop di tas dan coolbox sampel yang berisi es batu, tapi aku tetap bisa menahannya. Lelah boleh, tapi menyerah jangan. Iya kan?

Tau-tau sampai rumah tepar.

Mungkin itulah yang ingin dirasakan Max Smart. Bekerja di balik meja tentu akan berbeda rasanya dengan terjun langsung di lapangan. Dan epidemiolog lapangan melakukan keduanya. Melebihi agen mata-mata amerika. Ecieeh. Hahahah. Maksa.


Sendowog
Sudah mandi tapi masih galau proposal

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y