Pengalaman : When Your Leg Broken
Takdir
itu benar-benar rahasisa Allah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita
semenit kemudian. Namun, kita tahu bagaimana kita menerima segala keputusan
tersebut dengan ikhlas, karena yakin semua rencana Allah adalah yang terbaik.
Baik dalam memberikan pelajaran hidup. Juni 2015, saat seharusnya saya
menghabiskan waktu dengan belajar serius dan memupuk rencana-rencana kedepan, saya
mengalami kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh kebodohan pribadi. Kecelakaan
itu cepat sekali terjadi, tapi dampaknya luar biasa tidak cepat. Tulang tibia
fibula saya di diagnosis patah oleh dokter ortopedi UGD. Saya seharusnya
menangis, tapi tidak saya lakukan karena saat itu yang ada hanya kebingungan.
Ini kenapa? Kok bisa begini? Perasaan jatuhnya biasa aja. Nggak begitu parah.
Namun nasi telah menjadi bubur. Tulang kaki telah patah harus segera disambung
lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana memberitahu orang tua akan apa yang sudah
saya lakukan. Jauh-jauh pergi dari rumah untuk menuntut ilmu, malah membawa
berita pahit. Maafkeun akuuu
Operasi Pasang
Pen
Setelah
mendapat pertolongan pertama, kaki saya luar biasa masih sakit. Nggak bisa
gerak. Hanya diam di satu posisi. Temen-temen yang waktu itu masih rame, datang
satu per satu. Aku masih tertawa bersama mereka. Meskipun mereka heran kenapa
aku bisa setegar kelihatannya. Tidak tahu saja, begitu mendapat kamar, lampu
dimatikan, dan air mata mulai mengalir pelan-pelan membasahi wajah, kasus, dan
selimut. Sembari di dalam hati menjerit mohon ampun dan pertolongan pada-Nya. What
have i done? I must be crazy T__T
Beragam
kalimat motivasi berdatangan untuk memberikan kekuatan. Ya, kamu harus kuat.
Bagaimanapun, semua sudah terjadi. Dibalik semua kejadian baik dan buruk tentu
ada pelajaran yang bisa diambil. Misalnya, dalam hal pentingnya memiliki
asuransi kesehatan. Sebagai mahasiswa kesehatan, sangat lucu jika kita
mempelajari dan hendak mengamalkan ilmu tersebut, namun tidak memiliki asuransi
kesehatan. Saat itu juga, berkas-berkas asuransi kesehatan diurus sehingga
waktu berbaringku di rumah sakit menjadi lebih lama. Waktu merepotkan orang
lain pun semakin bertambah. Hingga saat asuransi jadi, ternyata belum bisa
digunakan. Mau tak mau, orang tua dan keluarga harus mengeluarkan banyak uang
untuk membantu menyelesaikan masalah karena kebodohanku. How stupid i am and i’m
full of regret.
Operasi
pemasangan pen dilaksanakan hari Jum’at 12 Juni 2015. Saat itu, jujur, meskipun
sakit, aku menerima semua perlakukan tersebut. Meskipun menangis menahan perih,
tapi rasanya ikhlas karena aku benar-benar ingin sembuh dan berjalan kembali.
Jadi, saat masuk ruang operasi, saya tidak menunjukkan ketakutan di wajah. Hatiku
terus berdoa dan keikhlasan datang begitu saja ke dalam diriku. Apa yang
terjadi terjadilah. Apa yang Allah kehendaki, aku akan menerimanya. Iya, aku
sempat pada keadaan demikian dimana aku berpikir jika hari itu aku meninggal,
aku harus segera memohon ampun sebelum masuk ruang operasi. T__T. Well,
bagaimanapun juga serem aja masuk ruang operasi. Kata asisten dokternya, cepet
aja. Paling dua jam-an. Tapi kalian tahu berapa lama aku dioperasi?
Jadwalnya sih jam 12 siang, jadi jam 11
an aku sudah di bawa ke tempat-tempat membedah manusia. Sudah sampai sana, di
persiapin dulu mulai dari baju dan tempat tidur. Disitu masih ada orang tuaku.
Disuruh nunggu dulu. Antri soalnya masih ada yang dioperasi. Terus jam 12 aku
disuruh masuk ruang operasi, tapi masih di luar juga, masih dipersiapin lagi
sama disuruh nunggu juga. Karena masih ada yang dioperasi dan kebetulan itu
hari jum’at jadi dokternya mau shalat jum’at dulu. Jadi, di situ aku khusyuk
berdoa. Sholawat, dzikir, ayat kursi, aku baca semua doa. Terus nggak lama
dokter anastesinya datang dan nyuntik antibiotik. Gilaa.. sakit banget. Aku
hanya bisa menahan dalam teriakan. Setelah itu aku dibawa masuk ke ruang
operasi. Kayaknya jam 1 an deh. Aku dipindahin ke meja operasi. Terus ada
dokter di sampingku yang nyuntikin sesuatu ke dalam infus yang enggak lama buat
aku nggak sadakan diri lagi. Kayaknya obat tidur soalnya kata dokter aku dibius
regional aja, pinggang ke bawah. Pas bangun, aku sudah digerek di lorong-lorong
rumah sakit. Udah gelap yang artinya udah malam. Jadi aku dioperasi dari jam 1
siang sampe jam 7 sore. Luar biasa lamanya. Tapi aku bersyukur karena masih
bisa buka mata dan nafas. Yang artinya Allah masih sayang banget sama aku untuk
segera berbuat kebaikan lagi. Hehe.
Habis dioperasi aku masih nggak terlalu
sadar. Kabur. Temen-temen SMA ku datang dan buat ketawa-ketawa. Aku nggak bisa
lihat mereka. Yang aku denger cuma suara. Kaki masih nggak terlalu nyut-nyut,
mungkin karena obat biusnya masih ada. Begitu mereka pulang, aku tidur lagi.
Sampai aku bangun muntah-muntah dan pokoknya menyiksa banget, Entah karena apa.
Apa mungkin karena aku belum makan dari malam karena disuruh puasa atau efek
dari obat bius atau obat anti nyeri. Hanya sehari di rumah sakit pasca operasi,
aku udah diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, luka operasinya dibersihin dulu.
Dan mulailah masa-masa berjuang berjalan dengan kaki satu dibantu dua kruk.
Berat kakinya, nyeri luka nya, susah
jalannya, sedih, bercampur jadi satu. Kalau sayur campur gado-gado sih enak,
kalau yang aku rasain ini asli tidak enak. But, you must accept it.
Setelah empat bulan pakai tongkat,
November 2015 aku diizinkan lepas tongkat. Jalan pelan-pelan dan lama-lama
jalannya jadi cepet. Aku bisa jalan cepet Februari 2016 kayaknya. Soalnya pas prakter lapangan Januari, supervisorku pernah bilang kalau aku jalannya masih lama gitu. dan that's why she never ask me to join them when investigate. Terus nggak
pernah kontrol lagi ke dokter sampai Agustus 2016. Pas kontrol aku ngeluh
kakiku nyut-nyut gitu dan kayak ada gesekan antara plate dan tulang. Itu beneran sakit dan buat aku jalan terseok-seok sedikit. Akhirnya
disuruh rontgen dan minum obat anti nyeri. Hasil rontgen tulangnya udah
nyambung bagus katanya. Jadi dokternya suruh lepas aja plate-nya. Soalnya jenis
plate yang digunakan katanya buatan apa gitu yang murah jadi rentan infeksi
kalau lama dan takutnya nanti malah susah dilepas kalau udah nyambung sama
tulang. Aku nurut tapi aku takut juga sih. Soalnya kan habis lepas pen harus
recovery lagi padahal aku udah sibuk-sibuknya. Masih kebayang gimana susahnya recovery pasca operasi dulu jadi ragu-ragu mau ikut saran dokter apa enggak. Jadi, aku mutusin untuk tunggu enam
bulan lagi. Karena masih harus kuliah dan juga perlu persiapan mental. Ada beberapa hal yang terkesan sakit banget dan buat aku tobat haha. 1) Sakit banget disuntik antibiotik. Cairannya kerasa nusuk-nusuk pembuluh darahku. Dulu aku sempat mohon-mohon sambil nangis sama suster biar dikasih obat aja dibanding harus disuntik antibiotik. Padahal aku juga susah minum obat. 2) Sakit banget dicabut jahitan. Jujur, aku sampe teriak-teriak kayak orang mau melahirkan waktu jahitannya dicabut. Itu beneran sakit banget. 3) I'm alone in here. Anak rantau. I'm doing everything alone. And when i'm sick, i really feel bad make other people other.
Dan segala pertimbangan, dan mikir ini itu, akhirnya di Januari 2017 ini aku masuk rumah sakit lagi untuk operasi
lepas pen.
Sendowog

Comments