Sudah pernahkan kamu ke desa?


            Saya berasal dari desa. Ya, saya sebut desa karena memang belum seramai di kota. Meskipun daerah tempat saya lahir itu adalah ibukota kabupaten, namun belum terlalu ramai jika dibandingkan dengan ibukota kabupaten lain yang sudah lama berdiri. Dan meskipun saya lahir di sana, namun saya dibesarkan di ibukota provinsi Papua yang jauh lebih ramai dan pada dibandingkan tempat lahir saya.
            Saya besar di Papua. Di sebuah provinsi paling timur Indonesia. Orang luar Papua selalu berpikir kalau Papua adalah hutan. Bahkan setelah mudahnya komunikasi dengan adanya internet yang bisa mempermudah orang luar mengetahui situasi di Papua, masih saja ada orang yang beranggapan Papua adalah hutan-hutan. Kenyataannya, Papua terdiri dari dua Provinsi yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat. Pada masih-masing Provinsi terdapat ibukota Provinsi dan kota-kota Kabupaten yang sudah cukup maju. Ada listrik, air, hingga cinema 21. Di Jayapura bahkan sudah semacet Jakarta (haha!), karena semakin berkembangnya pembangunan di Papua. Terlepas dari siapapun Presiden RI (apa coba?).
            Namun, meskipun terdapat kota-kota yang sudah cukup maju. Masih banyak wilayah di Papua yang tertinggal, susah air dan listrik. Itu tidak dapat dipungkiri mengingat wilayah geografis Papua yang berbukit-bukit dan transportasi yang sulit. Syukurlah ada program pemerintah yang membangun jalan trans papua yang menghubungkan setiap kabupaten. Semoga kelas memudahkan transportasi dan logistik untuk daerah-daerah yang sulit di jangkau. Daerah-daerah yang tertinggal tersebut sejujurnya belum pernah saya lihat langsung. Hidup besar di kota yang serba ada menyilaukan pandanganku pada keadaan sebenarnya Papua. Saya hanya melihat dari film-film buatan Ari Sihasale atau video-video di youtube ataupun cerita orang-orang.
            Hidup di kota besar memang sangat menyenangkan. Apa-apa tersedia, terutama jaringan internet yang memutuskan jarak-jarak antar benua. Tapi pernahkan kalian tinggal di desa?
            Saya pernah. Waktu KKN. Di salah satu desa di Kabupaten Takalar, namanya desa Towata. Waktu itu kami tinggal di rumah kepala Desa. Rumahnya bagus. Berkeramik. Meskipun pernah kita kesulitan air. Tapi lumayanlah. Waktu KKN, saya merasa tidak tinggal di desa karena mungkin jarak kami dengan kota Gowa hanya kurang lebih 1 jam. Dan jalanan yang dilewati beraspal. Atau mungkin karena saya belum mengelilingi seluruh desa. Melihat bagaimana sebenarnya mereka hidup. Itu cerita di Sulawesi Selatan, salah satu Provinsi yang maju di Indonesia Timur.
            Sekarang saya berada di Jawa. Sebuah pulau dimana semua kabupaten terhubung. Transportasi lancar. Jaringan internet kencang. Apa yang orang timur, terutama saya yang besar di Papua, membayangkan Jawa tidak akan ada yang seperti pedalaman Papua. Ternyata ada juga beberapa, meski tidak terlalu sepedalaman seperti Papua.
            Hari ini, saya kedua kalinya mengunjungi salah satu responden penelitian saya di daerah Lendah. Lendah merupakan salah satu kecamatan di Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Rata-rata pekerjaan warga Lendah adalah petani. Begitu dengan responden saya tersebut. Rumahnya yang masih berbentuk joglo atau khas rumah Jawa masih terbuat dari anyaman bambu. Letaknya berada di tengah pohon-pohon (aku gak tau pohon apa hehe) yang menjulang tinggi dan banyak. Waktu itu saya dianterin salah satu anak pak dukuh (sebut saja) ke rumah responden saya ini. Dia nganternya berenti di samping sungai-sungai kecil yang kesananya jelas nggak bisa pakai motor. Jalan kaki sudah biasa dilakukan jadi saya nggak masalah. Yang masalah adalah saya kok nggak melihat rumah sejauh mata memandang. Yang nganter juga sambil senyum-senyum kayak ragu gitu.
            “Rumahnya disana?” tanyaku.
            “Iya. Disana,” katanya.
            Waktu saya kesana untuk pertama kali, sepi sekali. Hanya ada satu rumah disitu. Rumahnya gubuk dari bambu. Syukurlah sudah ada kamar mandi di luar yang terbuat dari tembok. Di sambut yang punya rumah dengan bahasa jawa yang kental. Usianya sudah renta. Dan tidak ada siapa-siapa disana yang bisa mengartikan apa maksud si Bapak. Jadi, kami bicara pakai bahasa indonesia dan dijawab beliau dengan bahasa jawa. Nyambung dari mana? Responden yang saya cari ternyata tidak ada. Sehingga, saya kembali lagi hari ini.
            Nah, hari ini. Kami disambut dengan si Ibu lengkap dengan dua anjing penjaga yang buat spot jantung. Ibunya lagi kerja di belakang rumah waktu kami datang. Di belakang ternyata ada kandang sapi. Dan ada dua anjing yang sudah menggonggong kencang seolah kami adalah pencuri. Ibunya menyambut ramah. Saya menceritakan maksudku. Sayangnya, responden yang saya cari tidak ada. Namun, karena usianya yang masih tergolong anak, ibunya lah yang saya wawancarai. Setelah selesai, seperti biasa, saya memberikan souvenir sebagai hadiah karena telah menjadi responden. Souvenirku biasa saja. Hanya handuk kecil. Tapi, diterima si Ibu dengan penuh sukacita. “Terima kasih banyak, katanya. Waktu itu setelah saya berjalan kembali menuju jalan raya setelah berpamitan, tidak menoleh lagi karena rupanya salah satu anjingnya mengekori kami. And, i’m afraid of it. Kata temanku, saat dia berbalik, ibunya terlihat begitu bahagia menerima pemberian kami.
            “Tadi kamu lihat wajah ibunya gak?” tanya temanku saat kami berteduh di depan Pasar Gamping.
            “Ibu yang mana?” tanyaku sebab terlalu banyak ibu-ibu yang kami temui.
            “Yang itu di Diran.”
            “Oh. Tidak. Mengapa memang.”
            “Dia senang sekali sepertinya dapat handuk. Langsung dibuka, langsung dipakai.”
            Saya melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya sembari mengingat ibu itu. Iya, dia terlihat senang sekali diberi handuk yang menurutku hanyalah sebuah hadiah kecil yang tidak seberapa. Yang saya pilih selain karena murah juga mudah dibawa. Tapi, kita tahu bagaimana itu bisa berarti untuk orang lain.
            Terus, saya tiba-tiba kepikiran. Apa mereka pernah melihat betapa ramainya jalanan di luar tempat tinggal mereka. Semenjak mengelilingi Kulon Progo dari yang dataran rendah hingga dataran tinggi, saya baru melihat bagaimana orang-orang desa bertahan hidup. Ada yang saya temui menyusuri hutan-hutan dengan berjalan kaki. Ya meskipun tidak semuanya. Yang rumahnya berada di tengah hutan yang dikelilingi pohon-pohon tinggi yang dari jauh menurutku tidak mungkin ada orang yang tinggal di situ. Atau di atas gunung yang jalannya hanya cor blok atau bahkan masih tanah. Tapi mereka bertahan hidup. Jauhnya dari kota bisa berpuluh-puluh kilo dan saya tidak bisa membayangkan apa mereka pernah keluar dan melihat betapa crowdednya kota-kota?
            Itu baru di Kulon Progo, di salah satu Kabupaten di Pulau Jawa, pulau yang pembangunannya jauh lebih maju dari Papua. Bagaimana dengan di Papua yang sejujurnya masih banyak sekali yang tertinggal?
            Sebenarnya ini bukan kali pertama melihat penduduk di daerah pedalaman. Di daerah lahir saya pun, saya pernah melewati tempat-tempat demikian. Begitupun dengan di Papua. Waktu kecil saya pernah melalui perjalanan ke sebut saja tengah hutan yang sepanjang jalan benar-benar hanya hutan yang dilihat. Namun hanya melihat dari jauh, tidak sampai masuk ke dalamnya. Hanya saja, baru saat ini saya baru melihat bagaimana orang-orang desa hidup dan merasa benar-benar bersyukur karena Allah memilih saya untuk besar di kota dan bisa mengenyam pendidikan tinggi.
            Sayang, jalan-jalan desanya tidak saya foto. Meski begitu, dibandingkan Papua, jelas desa di Kulon Progo lebih maju, sebab masih bisa dijangkau dengan kendaraan.
            Terakhir, dimanapun kita tinggal, kita sama-sama berjuang keras. Siapa yang menyangka jika mungkin saja lebih tenang hidup mereka di desa dibanding kita yang hidup di kota? Hehe

Sendowog


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y