Kesusupan Serpihan Kayu di Kuku
![]() |
| sumber : id.wikihow |
Kita nggak pernah tahu ya kapan
musibah/penyakit datang menerpa. Misalnya waktu saya menabrak trotoar yang
menyebabkan tulang tibia dan fibula saya patah. Kejadiannya begitu cepat. Tidak
terduga. Nggak bisa dipercaya. Nggak bisa diprediksi. Atau misalnya kita
menderita batuk/pilek. Tiba-tiba aja malam atau pagi kepala kita pusing,
disusul demam, dan akhirnya berujung batuk pilek. Padahal ‘kayaknya’ kemarin
kita sehat-sehat aja. Nah, sama seperti saat ini, saat saya sedang mengetik
dengan jari tengah tangan kanan harus diperban karena tertusuk serpihan kayu.
Serpihan itu rasanya menyakitkan ketika
masuk diantara kuku dan daging. Serpihan itu patah pas banget dibatas kulit
sama kuku jadi agak susah untuk dikeluarkan. Serpihan itu terasa nyut nyut
sekali saat tangan saya menari di atas keyboard. Serpihan... sebenarnya kita
tidak semestinya meremahkan serpihan-serpihan ya. Apalagi menyamakan kita
dengan perumpaan “apalah aku hanyalah serpihan-serpihan kayu”. Nyatanya, serpihan
kayu yang masuk ke dalam daging itu sangaaaaaat menyiksa.
Jadi cerita, saya sedang begitu bersemangat
mengejar nyamuk-nyamuk nakal yang sudah mulai datang di musim penghujan dengan
raket nyamuk yang siap menyentrum. Saking semangat, saya tidak sadar kalau
sampai mengejar nyamuk sampai di bawah meja. Tiba-tiba aja, tiba-tiba.. tangan
saya menyentuh sisi kaki meja yang belum diratakan permukaannya, plek, serpihan
kayu sukses masuk diantara kuku dan daging. Perihnya bukan maiiiin. Saya yang
panik langsung bergegas mengamil pinset dan jarum, bersiap mengeluarkannya.
Namun, terlalu sulit dan terlalu sakit. Sebagai orang yang suka mencari
tutorial di google, saya pun segera mencari tips di google tentang cara
mengeluarkan serpihan kayu. Tujuannya sih biar enggak sakit banget. Soalnya
kalau dengan jarum, rasanya udah nyut-nyutan.
Banyak sekali ternyata cara mengeluar
serpihan kayu atau duri atau benda tajam lainnya yang masuk ke kulit. Saya pun
mencoba tips yang paling mudah untuk dilakukan dan sudah familiar, yaitu
memubuhkan bawang merah. Tapi, air bawang merah yang pelan-pelan keluar dari
bawang membuat kulit kuku saya sedikit perih, serpihan kayu pun tak kunjung
keluar. Tak sabar, saya mencoba cara yang kedua yaitu merendam dengan air
hangat yang dicampur garam selama sepuluh menit. Setelah sepuluh menit, tak ada
perubahan. Saya pun mencoba cara yang berikutnya yaitu dibubuhi pasta baking
powder. Dengan cara ini, jari saya lumayan tidak terasa sakit. Malamnya, saya
tidur dengan penuh harap, besok pagi serpihan kayu bisa nongol sedikit agar
bisa ditarik dengan pinset.
Besok paginya, dengan perasaan cemas dan
penuh harap saya melepaskan perban di jari. Namun, bukannya nongol, kulit jari
saya malah agak menebal. Tapi, rasa sakit kesusupan sudah hilang. Sebenarnya
saya berniat untuk ke puskesmas hari itu, namun tertawaan dari orang sekitar
membuat saya tidak pede. Dan lagi, saya seperti tidak berani jika ternyata di
sana tidak dibius. Sakitnya kulit dikorek-korek dengan benda tajam saya tak
mampu menahannya. Akhirnya, saya pun mencba cara yang lain. Yaitu metode
penghisap, caranya saya mengisi air hangat di dalam botol bermulut lebar tidak
sampai penuh kemudian menekan jari saya di atasnya. Harapannya, uap air hangat
itu dapat menarik kayu nya keluar. Namun, sampai airnya dingin, serpihan kayu
tetep diam di tempat.
Saya belum kehabisan cara. Cara berikutnya
adalah cara terakhir yang membuat saya memutuskan untuk membiarkannya. Pada
beberapa pengalaman orang, serpihan kayu itu keluar dengan sendirinya setelah
beberapa hari. Cara itu adalah memubuhkan tumbukan bawang putih. Namun, cara
ini justru membuat kulit jari saya seperti akan terbakar. Perihnya malah
double. Belum lima menit, saya buru-buru melepaskan perban berisi tumbukan
bawang putih itu. Selanjutnya, saya membiarkan serpihan kayu itu di dalam
jariku selama beberapa hari. Sampaiiiii
Kulit jari saya seperti membuat jalan agar
serpihan kayu itu keluar namun tidak perih. Akhirnya saya bisa mengorek dengan
jarum dan mengeluarkannya dengan pinset tanpa rasa sakit. Wahh... ajaib sekali.
Tetapi, proses ilmiah yang menyebabkan peristiwa ini belum saya pahami.
Jadi, buat temen-temen yang sedang
mengalami hal serupa, jangan panik. Sebaiknya ke dokter jika memang
kesusupannya terlihat agak parah. Jika tidak, mungkin bisa dicoba cara-cara
tradisional. Saya tidak menyarankan untuk dibiarkan, sebab mungkin saja kenapa
terjadi peristiwa seperti saya terjadi adalah karena usaha saya mengobatinya
dengan cara-cara tradisional terlebih dahulu.
Sabtu malam ditemani
laptop

Comments