Mengejar Sunrise di Bromo


Setelah sekian lama ngidam pengen ke Malang dan setelah sekian banyak orang di ajak (aslinya mah cuma dikit) tapi pada gak mau semua, akhirnya.. akhirnya... ada yang ajakin juga. Meskipun di detik-detik terakhir, tapi terima kasih sudah mau mengajakku. Hehe

Destinasi utama ke sana untuk saya tentu saja adalah Gunung Bromo. Sehingga persiapan yang dibawa kebanyakan adalah untuk pergi ke Bromo. Berhubung ajakannya dadakan, sehingga saya belum sempat searching apa yang harus di bawa kesana. Iya. Di zaman digital ini, biasanya sebelum bepergian orang-orang akan melakukan riset kecil-kecilan (ealah) tentang bagaimana tempat wisata yang dituju, bagus nggak dari testimoni orang-orang yang sudah pernah kesana, apa yang harus dibawa, dan pengalaman selama disana. Itu penting. Karena kalau sampai salah bawa barang-barang kan repot. Misalnya mau ke pantai tapi pakai sepatu kets. Kasihan sepatunya. Hehe. Jadi, karena kurang searching akhirnya saya hanya membawa peralatan sesuai pemikiran saya sendiri. Plus yang di seacrh di grup dari pemandu wisata yang akan membawa kita keliling Malang. Apa itu? Tunggu aku lupa. Itu ada di grup chat whatsapp yang sepertinya sudah tenggelam. Seingat saya à jaket, sarung tangan, syal, obat-obatan. Kurang lebih seperti itu. Karena udara di atas gunung pasti dingin, without being told, everyone will bring jacket. But, how to look fashionable at the top of the mountain??Itu adalah hal yang terlupakan. Sungguh-sungguh terlupakan. Sebab, sebagai orang yang nggak tahan dingin, ketika berpikiran akan berkunjung ke tempat yang dingin, tentu saja yang dipersiapkan adalah pakaian hangat sebanyak mungkin. Jadi, yang saya bawa kesana adalah dua jaket, satu kaus polo tebal, dan celana jeans tebal. Saya sudah membayangkan kalau saya akan lebih mirip lontong ketika pakai dua jaket. Pakai satu jaket aja udah mirip buras. Maafkan kegendutanku. Haha. Maksudku, saya melupakan kalau zaman sekarang, dibalik jalan-jalan adalah mengambil foto instagramable. Sehingga saya nggak heran ketika melihat salah satu pengunjung di view point buat lihat sunrise cuma pakai cardigan dan sandal biasa. Mungkin dia sudah terbiasa dengan udara dingin kali ya. Plus, bayanganku tentang bromo adalah tidak jauh dengan film 5cm yang fenomenal itu. Mengingat pergi ke bromonya naik jeep, bayangan saya tentang jeep adalah jeep dengan atap terbuka seperti kendaraan yang ditumpangi Zafran dkk. Sehingga, kalau naik jeep seperti itu pukul 3 dini hari, mesti dingin buanget. Ternyataa bukan seperti itu. Wkwk.

Oke. Lupakan pengantar ceritaku yang terlalu panjang. Seperti judulnya, saya mau cerita tentang pengejaran matahari di Bromo. Kalau lihat matahari terbit pasti sudah pernah, tapi kalau lihat matahari terbit sambil kedinginan di puncak gunung pasti belum pernah. Makanya, sekarang saya mau coba bagaimana hangatnya matahari mengusir udara dingin di subuh yang seharusnya sunyi. Karena terlalu banyak nonton film yang sekarang semakin canggih dengan teknologi CGI-nya, pemandangan matahari terbit yang aku bayangkan seharusnya tidak jauh-jauh dengan apa yang ada di film-film. Ternyata kawan-kawan, setelah dua jam menunggu, matahari akhirnya muncul juga. Setelah sebelumnya dengan seruan keraguan-raguan dari pengunjung apakah benar itu golden sunrise atau bukan. Sebab, sayang sekali, hari itu matahari ditutup awan. Sehingga wajah matahari bangun tidur yang dinantikan segenap umat manusia tidak seperti yang ada di benak semua orang.  

            Atau itu hanya karena aku memotretnya dengan kamera handphone yang tidak terlalu bagus resolusinya. Harusnya mungkin seperti yang di bawah ini.


Sumber : manusialembah.com


Itu saya ambil dari google seperti instruksi salah satu pengunjung di belakang saya. Beliau berkata, mengapa kamu repot-repot memotret. Sudah duduk dan kagumi saja keindahan alam karya pencipta-Mu. Mungkin maksudnya kamera hapemu resolusinya berapa? Kalau tidak bagus, mending diturunkan saja karena mengganggu penglihatan orang-orang di belakangmu. Padahal gambar yang saya ambil cukup bagus. Ini bisa lihat di bawah, judulnya para penunggu golden sunrise. Sekarang kita melihat keindahan alam dengan lensa double. Lensa mata dan lensa kamera. 


            Ya. Begitulah pemandangannya. Karena salah pilih tempat dan tinggi badan yang tidak seperti model, maka yang bisa dilihat dari golden sunrise adalah demikian. But, meskipun tertutup awan, wajah matahari yang baru bangun tidur tetap saja indah. Seperti wajah kita bangun tidur dengan rambut acak-acakan. Looks more natural

Setelah mengejar matahari, ada beberapa destinasi wisata lagi di Bromo, termausk kawah Bromo. Namun, tidak akan saya ceritakan disini. Nanti kalau ada waktu buat nulis baru saya ceritakan lagi. 

Kalau disuruh kesana lagi, saya mau sekali. Tapi, harus bawa pasangan halal, soalnya jaket saja tidak cukup menghangatkan. Wkwkwkwk.

Ditulis pas lagi kelaparan malem-malem






Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y