TAMAT


            Kehidupan masa remaja biasanya tidak lepas dari kebiasaan mengidolakan seseorang. Mengidolaka seseorang di kalangan remaja putri adalah suatu hal yang wajar. Ya meskipun tidak semua remaja putri memiliki idola. Biasanya mereka yang punya idola akan memberikan sebagian waktunya untuk mempelajari kehidupan sang idola. Sehingga secara psikologis mereka merasa menjadi dekat. Padahal perasaan itu muncul karena mereka yang mempelajari dari jauh atau dari dekat tanpa menyatakan maksud bahwa ia adalah idola. 

            Hari ini tiba-tiba saya mendapat kabar kalau salah satu idola kita di kampus akan melangsungkan pernikahan. Bagi kita, dia adalah satu-satunya mahasiswa yang menerangi kampus selama empat tahun di bangku kuliah. Yang mengidolakannya juga bukan hanya perempuan, laki-laki pun turut. Mungkin kalau dia besar di Jakarta, dia sudah jadi artis yang membintangi sinema elektronik di rcti atau sctv. Sayangnya, dia lebih memilih menekuni bidang kesehatan dibandingkan menjadi artis. Itulah mengapa fans dia banyak sekali di kampus tercinta kami. 

            Setelah lulus kuliah, kehidupan remaja yang dulu pernah diisi memikirkan idolanya, berubah seratus delapan puluh derajat. Mereka harus menghadapi dunia yang lebih kejam dibandingkan judul ditolak atau direvisi berkali-kali. Hingga, hampir tak ada waktu untuk memikirkan hal lain yang remeh temeh seperti idola. There’s something more important. Yaitu mencari pekerjaan tetap, melanjutkan impian, menikah, mengurus suami, mengurus anak, dan lain sebagainya. Mereka yang dulu remaja beranjak dewasa. Mereka yang dulu malu-maluin dan alay menjadi bijak dan berprinsip. Sehingga, kisah mengidolakan idola sudah tamat dari jauh-jauh hari. 

            Sama seperti saat saya mengidolakan boyband korea. Sewaktu kuliah, saya bahkan menangis diam-diam saat mendengar lagu mereka. Bukan karena gak ngerti apa yang diucapkan, atau karena lagunya sedih. Itu karena boyband yang saya idolakan sudah terpecah menjadi dua bagian. Bagi orang lain yang tidak punya cerita tentang mengidolakan seseorang atau sekelompok orang, hal yang saya lakukan adalah aneh. Tapi bagi saya saat itu adalah hal-hal wajar dimasa remaja yang penuh sikap labil. Dan, saya tidak peduli pada perkataan orang lain. 

            Setelah lulus kuliah. Dunia yang sebenarnya menyapa. Saya sudah tidak punya waktu untuk mengupdate kegiatan-kegiatan mereka. Bahkan sudah tidak pernah mendownload lagu-lagu terbaru. Bukan karena berhenti mengidolakan, tapi banyak keterbatasan yang membuat kita tidak bisa seperti dulu. Sehingga, kisah mengidolakan idola telah tamat. 

            Tulisan ini dipersembahkan untuk para remaja putri yang masih hidup dengan bayang-bayang idola. Buat kalian, jangan malu dan tetaplah menjadi remaja putri yang ceria dengan melihat kebahagiaan di wajah idola. Itu adalah hal yang wajar. Namun, kalian harus ingat bahwa yang paling utama dari menjadi seorang pelajar adalah belajar, kemudian mengejar cita-cita. Mengidolakan idola jadikan sebagai hiburan untuk merehatkan pikiran yang penat. Jika sudah tiba waktunya, kalian akan tahu kapan waktu untuk berhenti. 

Selamat malam
Dari lereng gunung polimak

TAMAT
           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y