Touch Down Jogja : Roti Abon Manokwari





Aku masih ingat pertanyaan dari para interviewer kala itu. “Kamu belum pernah ke Jawa?” tanya mereka dengan ekspresi yang tidak bisa aku tebak. Antara kasihan dan takjub. Sebab alasanku untuk mengikuti program pascasarjana adalah untuk mengejar impianku selama ini. Kuliah di UGM. Impian kecil seorang anak yang besar di ujung timur indonesia.

Dan sekarang, saat aku menginjakkan kakiku di bandara Adi Sucipto, aku tahu bahwa Allah tidak pernah tidak mendengar doa kita, impian kita. Allah memeluk doa-doa kita, lalu perlahan-lahan disebarkannya dengan waktu yang tepat. 

Aku ingin menari-nari saat itu. Tapi tidak aku lakukan sebab aku sadar aku tidak sedang syuting film. Jadi aku hanya mendorong troly berisi sebuah koper ukuran sedang, sebuah kardus kecil dan sebuah kotak merah oranye bergambar roti yang lezat. Menunggu jemputan dari orang-orang yang berbaik hati, aku sendirian di salah satu sisi bandara. Beberapa supir taksi melihatku dan menawari jasa angkut. Aku menggeleng. Mataku sigap mencari tempat duduk. Duduk selama tujuh jam di pesawat tidak serta merta membuatku enggan untuk duduk lagi. Aku butuh tempat duduk agar terlihat seperti ‘orang lama’ yang tidak kebingungan datang di kota orang. 

Aku duduk di meja salah satu kedai yang tampak sepi di sekitar bandara. Melihat sekeliling dipenuhi oleh orang-orang yang pastinya tidak aku kenal. Namun, ada perasaan lain yang hadir. Yaitu, akhirnya aku ke jogja. Ahaha... Udik ya? Lalu sekelompok anak muda datang dan menghampiriku. Dengan tampak sok kenal sok dekat mereka tampak seperti anak kuliahan yang akan mengakhiri masa kuliahnya. Atau bahkan lebih terlihat seperti anak SMA yang baru masuk kuliah. Dengan muka sok kenal sok dekat, mereka dengan gampangnya memintaku memotret mereka. Awalnya aku merasa mereka seperti adik-adikku saja. Lalu percakapan selanjutnya membuatku sadar bahwa seharusnya aku harus merasa masih muda.

“Kakak dari Jayapura, ya?” tanya salah seorang yang paling banyak bicara dari mereka.

“Iya. Kok tahu?” tanyaku penasaran.

“Tuh, bawa abon gulung.” 

Aku melihat troli ku yang disalah satu sisinya sedang tersenyum cerah buah tangah khas Papua, Roti Abon Gulung. Pada detik itu aku berpikir bahwa Roti Abon Gulung mungkin telah meng-indonesia sampai hanya dengan melihat bungkusnya orang-orang sudah mengetahui bahwa aku pasti dari Jayapura. Namun beberapa saat kemudian setelah percakapan berikutnya baru aku tahu kalau kelompok anak muda yang kupikir adalah anak SMA baru lulus ternyata adalah seniorku di pascasarjana IKM, tempat dimana aku akan menuntut ilmu lagi (aamiin) yang berasal dari Jayapura juga. Salah satu di antaranya bahkan berkuliah di Universitas Indonesia. 

Dunia memang sempit atau mahasiswa pascasarjana dari Papua memang sangat banyak? Entahlah. Yang aku ingin katakan disini adalah bagaimana buah tangan dari Provinsi masing-masing akan menjadi sebuah pintu untuk sebuah perkenalan ketika berada di tanah rantau. 

Roti Abon Gulung Manokwari adalah buah tangan khas dari Papua. Jika kalian berkunjung ke Jayapura, jangan lupa membeli Abon Gulung sebagai oleh-oleh. Soal harga memang menyesuaikan dengan keadaan ekonomi di Papua, namun tersedia variasi rasa yang menggoda selera dan cocok untuk dinikmati oleh seluruh anggota keluarga maupun teman-teman. Sayangnya roti ini tidak bisa bertahan lebih dari 3 hari. (ini bukan promosi karena sejujurnya aku tidak dibayar berapapun oleh pemilik bakery. Hahah)

Hanya saja, dengan membawa roti itu, dan berkenalan dengan mahasiswa-mahasiwa papua yang aku temui pertama kali saat menginjakkan kaki di Jogja, membuatku sedikit tidak merasa asing. Ini masih Indonesia ci. Haha

Ngomong-ngomong tentang buah tangan, menurut saya setiap daerah di Indonesia sudah harus memiliki buah tangan khas. Kalau bisa enggak hanya satu tapi dua atau lebih. Ini berdasarkan pengalaman saya dari Papua kemarin, saat akan naik ke pesawat, masing-masing penumpang memegang roti abon gulung. Setiap penumpang. Sehingga, pramugari yang berdiri pintu pun merasa takjub melihat para penumpang dengan bawaan yang sama. Itu sih tiga tahun lalu, mungkin saat ini sudah banyak atau mulai tumbuh oleh-oleh khas lain dari Papua, dan daerah lain juga.


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y