After. Life (2009)


Mengapa kita mati?
Agar kehidupan menjadi penting

Anna akhirnya diberikan kesempatan untuk meninggalkan ruangan persiapan pemakaman. Setelah selama ini mencoba kabur karena tidak percaya bahwa ia sudah meninggal, Anna akhirnya bisa keluar dan tetap menyakini apa yang ia ingin yakini. Ia belum mati. Namun belum sampai kakinya menginjak luar ruangan, segala pemikiran tentang kehidupan yang berat yang seketika menyeruak membuatnya tidak bisa melangkahkan kakinya. Tuan Deacon, si pengurus pemakaman pun berujar, “Kupikir kau berbeda. Kau bilang kau takut kematian. Tapi faktanya adalah kau lebih takut pada kehidupan.”

Tidak ada kata terlambat, begitu pun untuk urusan menonton film yang tayang tahun 2009 di tahun 2018. Tadinya ingin menonton film horor yang bisa buat teriak-teriak ngeri, tapi malah ketemu sama film horor yang sama sekali enggak serem. Tapi horornya tetep dapet sih. Jadi, After.Life ini menceritakan tentang seorang perempuan yang kaget dan gak terima kalau dia sudah meninggal. Dia mengalami kecelakaan setelah pergi dengan tangisan dari acara makan malam dengan kekasihnya. Anna Taylor, perempuan itu, salah sangka jika pacarnya akan memutuskannya. Ia akhirnya memutuskan pergi dari restoran dan mengendarai mobil di tengah hujan deras dan dengan kondisi yang lagi tidak stabil. Padahal, pacarnya berniat untuk melamarnya namun ia melakukan kesalahan dengan kalimat pembuka yang ambigu. Sebagai penonton aku cukup kesal karena kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Ternyata, pertemuan mereka di restoran adalah pertemuan terakhir. Anna mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia.

Saat di ruang persiapan pemakaman, Anna tiba-tiba terbangun. Ia bahkan bisa berbicara dengan Tuan Elliot Deacon yang mengurusi mayatnya. Sebagai penonton aku terbawa pada kesimpulan bahwa mungkin aja si Anna masih hidup. Tapi, Tuan Deacon bersikeras bahwa alasan mengapa Anna masih bisa berbicara adalah bukan karena ia masih hidup, melainkan karena indra keenam Tuan Deacon yang bisa melihat hantu dan kematian gitu. Sepanjang film kita akan digiring pada opini bahwa Anna masih hidup dan Tuan Deacon ini semacam psikopat yang membunuh orang-orang yang sebenarnya belum meninggal. Adegan-adegan yang disuguhkan seperti menguatkan opini itu misalnya murid Anna yang melihat Anna di berdiri di dekat jendela, Anna yang bisa menelepon pacarnya, Tuan Deacon yang mencoba menyembunyikan kenyataan kalau pacar Anna sangat mencintainya, Tuan Deacon juga menyembunyikan Anna yang masih bernafas, dll. Pokoknya, adegan yang disuguhkan bener-bener pengen bikin kita yakin juga kalau si Anna ini masih hidup. Bahkan hingga di ending film. Dimana saat peti mati Anna sudah ada di dalam tanah dan hendak dikubur, Anna tiba-tiba bangun dan berteriak agar bisa keluar dari peti mati.

Film ini keren sih.  Meskipun beberapa kritikus ada yang bilang kalau dari pertengahan sampai akhir si Sutradara seperti kehilangan arah mau dibawa kemana filmnya. But, for me yang cuma penikmat film, bagus-bagus aja sih. Apalagi sukses buat kita bertanya-tanya, ini Anna masih hidup atau sudah mati sih? Padahal kalau jeli kita pasti bisa menangkap adegan-adegan tersirat yang menyatakan bahwa sebenarnya Anna sudah mati. Ya secara logika aja sih, dia jelas-jelas gak ngerasain apa-apa dan tidak berdarah ketika dahinya dijahit. Kita hanya ikut terbawa suasana dengan suksesnya sutradaranya membuat kita juga yakin kalau Anna mungkin masih hidup. Plus, kejadian-kejadian yang dialami pacar Anna juga sebenarnya adalah kejadian yang lazim ketika kita ditinggalkan orang yang kita sayangi dengan begitu tiba-tiba. Halusinasi, mengira orang yang meninggalkan kita itu masih hidup, melihat orang yang sudah meninggal itu, bahkan merasa dihubungi sama orang yang sudah meninggal itu.

Daann, pelajaran hidup yang aku tangkep setelah nonton adalah bagaimana kita menghargai kehidupan yang sudah diberi. Hidup cuma sekali karena itu menjadi sangat penting. Terkadang ketika kehidupan menjadi sangat sulit, akan ada orang-orang yang berpikir mati mungkin lebih baik. Dan, di film ini kita ditunjukkan bagaimana kehidupan setelah kehidupan. Kebanyakan orang akan menyesal karena harus pergi dari kehidupan. Kita merasa bahwa belum menyelesaikan banyak hal, belum melakukan banyak hal, dan yang paling penting adalah belum punya banyak bekal. Namun, disisi lain kita juga sebenarnya takut akan kehidupan itu sendiri. Yup. Hidup itu enggak mudah. Banyak masalah, beban mental, pura-pura bahagia, dan lain-lain. Bahkan banyak orang yang berpikir mungkin lebih baik mati saja. Tetapi, ternyata kematianpun tidak indah. Jadi, manakah yang paling kita inginkan? Hidup? Atau Mati? Jawabannya adalah hiduplah dengan benar, karena kematian pasti akan datang.

Well, aku bener-bener suka sama film ini.

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y