Release
Sewaktu kecil di kampung, Raisa tidak punya teman yang
memiliki keyakinan berbeda. Semuanya sama. Sama-sama belajar mengaji, sama-sama
pergi ke masjid, dan sama-sama pergi sholat Ied. Setelah tiba di sini, teman
Raisa mulai bervariasi. Ada yang sama-sama puasa, ada yang pergi ke gereja
setiap minggu, dan ada yang pergi ke vihara. Saat masih SD dan SMP, Raisa
bahkan ikut acara natal di sekolahan. Pas halal bi halal, teman Raisa yang
natalan juga ikutan halal bi halal. Sewaktu masih kecil sampai remaja itu,
mereka benar-benar di didik tentang toleransi. Meskipun saat pelajaran agama mereka
berpisah kelas. Mereka diajar untuk menghargai kepercayaan teman-teman kita
yang berbeda.
Perbedaan mulai terasa saat duduk di bangku SMA.
Keingintahuan Raisa tentang Islam tiba-tiba meningkat drastis. Mungkin karena
guru agamanya menarik dalam membagikan ilmunya. Meraka tidak disuguhkan pada
dasar-dasar Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehar-hari, namun lebih luas
dan dalam lagi. Seperti misalnya keingintahuan tentang sejarah islam yang
berjaya 1400 tahun, khalifah, dan juga tentang jilbab yang wajib bagi
perempuan. Mungkin juga karena Raisa sudah cukup besar, sehingga
pemikiran-pemikiran kritis dan skeptis mulai muncul. Sesekali bahkan pernah
debat masalah keyakinan dengan teman sebangku, sahabat sendiri sih. Tetapi,
meskipun beda keyakinan mereka tetap berteman sampai sekarang. Karena, mereka
sudah di didik sejak kecil untuk menghargai prinsip orang lain.
Tetapi bagaimana jika urusan keyakinan hadir dalam
hubungan romansa dua insan? Aduh, Raisa membayangkan pun tidak pernah tentang
itu. Mimpinya adalah menemukan pria yang baik dan nyaman. Perkara keyakinan? Raisa
tidak pernah memikirkannya. Maksudku, Raisa tidak pernah membayangkan untuk
jatuh cinta sama pria yang tidak beragama Islam. Tiap ketemu pria yang tidak
seiman, ia akan secara refleks memanggap dia teman. Secara refleks! Karena
sudah tertanam dalam benaknya bahwa orang islam hanya akan menikah dengan orang
islam. Kejadian orang-orang yang kemudian terlibat hubungan beda agama seperti
yang ia lihat di televisi membuatnyacukup prihatin dengan mereka. Kadang, Raisa
juga bertanya-tanya, apakah mereka enggak memikirkan masalah itu sebelum
benar-benar jatuh cinta?
Well. Kalian boleh ketawa, karena apa yang tidak pernah
ia bayangkan itu malah terjadi kepadanya.
Bertemu dengan pria yang baik dan bikin nyaman. Apalagi
ketemunya dalam masa-masa penuh duka dan butuh uluran tangan. Bisa dibilang
mungkin dia kasihan sama Raisa dan Raisa-nya malah baper. Apakah Raisa
memikirkan masalah “beda” sebelum benar-benar jatuh cinta atau tidak? Tentu
saja dipikirin. Bahkan sebelum mulai menerimanya, Raisa membunuh perasaan lain
yang hadir karena sikap baiknya itu. Siapa coba yang mau capek-capek jalanin
hubungan yang belum tentu arah. Tapi, yah, yang namanya rasa sayang itu kadang
muncul diluar logika. Mungkin itu yang terjadi pada orang-orang yang kemudian
menikah dengan perbedaan keyakinan. Perasaannya sudah mengalahkan logika.
Bagaimana dengan Raisa? Apakah logika masih cukup besar
dibandingkan kasih sayang? Jawabannya adalah pasang surut. Terkadang Raisa
yakin kalau ia tidak menyerah mungkin Allah akan membuka jalan. Namun disisi lain
ia tahu kalau Allah hanya akan memberikan hidayahnya kepada orang-orang yang
dikehendakinya. Ia pun jadi khawatir, bagaimana jika Allah tidak menghendaki
orang yang ia sayangi menjadi bagian dari Islam? Sampai kapan dia harus begini?
Teman-temannya sudah punya satu anak, bahkan ada yang sudah dua dan tiga.
Sampai kapan?
Mengalah?
Tidak mungkin juga. Apa yang ia pelajari sejak kecil
yang kemudian semakin kuat saat aku SMA sudah cukup membuatnya yakin kalau
Islam adalah agama yang benar. Raisa bahkan memutuskan mengenakan jilbab karena
percaya itu adalah perintah wajib dari Allah.
Hmm..
Sebenarnya simple saja solusinya. Berhenti berhubungan.
Jika kita tidak sanggup berpindah keyakinan, maka kita pasti akan sanggup
menahan rasa sakit hati. Bukankah tidak selama kita berduka? Akan datang hari
bahagia dari-Nya.
Tapi Raisa itu orangnya suka penasaran. Dia selalu
penasaran apa yang akan terjadi kalau dia tidak menyerah. Maka, jika suatu hari
dia yakin bisa berhenti, tetapi dihari lain dia penasaran bagaimana kalau dia
tidak berhenti. Mungkinkah ada kabar baik yang terjadi?
Pas banget. Di saat-saat seperti itu, dia ketemu sama
berita pernikahan salah satu vlogger asal Indonesia dengan kekasihnya. Yang
bikin tertarik sama beritanya adalah karena mereka menikah setelah sang pacar
akhirnya memutuskan masuk islam. Raisa yang selalu penasaran ini kemudian
mengepoi asal mula kenapa sang pacar mau pindah agama. Apakah karena sebegitu
sayangnya?
Ternyata tidak, guys. Sang pacar pindah agama karena
memang dia yakin sama islam. Selama ini, meskipun dia rajin ibadah dan playlist
di handphonenya adalah lagu-lagu rohani, dia enggak yakin berdoa sama siapa.
Meskipun sempat enggak suka debat agama sama vlogger ini, sang pacar akhirnya
luluh untuk belajar mengenal islam. Si vlogger yang juga masih belum tahu
banyak tentang islam juga akhirnya belajar bersama. Ia bahkan kemudian memutuskan
berhijab. So sweet sekalee karena akhirnya kemudian mereka bisa halal di mata Allah.
Sementara Raisa cuma bisa gigit jari karena Allah sepertinya tidak menghendaki
si dia itu untuk masuk islam.
Gimana enggak? Masalah intoleransi yang muncul di Indonesia
pasca pesta demokrasi di Jakarta ternyata turut mengintoleransikan hubungan Raisa
dan si dia. Meskipun sudah mencoba netral, si dia masih merasa kalau Raisa
hanya pura-pura netral. Pandangannya tentang islam pun semakin tidak bagus.
Plus, masalah bom bunuh diri yang selalu membuat nama islam menjadi hitam.
Raisa sedih. Tapi, dia bisa apa selain sabar dan berdoa?
Jadi, jika kalian sedang atau akan memulai hubungan
dengan beda keyakinan. Kalian harus semangat dan tetaplah percaya kepada Allah.
DIA tahu mana yang baik buat kita, dan sebaik-baiknya rencana kita, rencana
Allah lebih baik.
~Mendung
Tak ada kenangan kita dengan mendung
Adanya hujan, dan kita tetap makan
ice cream
Karena tak ada waktu lain lagi
selain hari itu, untuk makan ice cream bersama lagi~
Ditulis
pas ruangan lagi kosong
Comments