Mei di Jeju Island
Tujuan
kedatangan kami di Pulau Jeju adalah untuk menghadiri seminar internasional
tentang hipertensi. Hanya saja kami datang terlalu cepat dari jadwal acara demi
mengejar tiket murah. Akhirnya, kami memiliki waktu untuk berkeliling Pulau
Jeju.
Mount Hallasan
Destinasi
pertama kami adalah Gunung Hallasan. Gunung tertinggi di Korea ini bisa didaki
dengan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncak. Trek yang dilalui juga sudah
dibuat senyaman mungkin untuk pendaki. Meskipun bebatuan khas di area taman
nasional itu cukup membuatmu harus waspada. Kita datang di saat musim panas
sehingga sungai-sungai disekitar trek yang kita lalui kering. Disisi jalan
tempat untuk mendaki terdapat petunjuk yang memudahkan pendaki untuk mengetahui
dimana dia berada dan berapa lama lagi untuk sampai ke puncak.
Kakiku
sudah tidak sanggup dan mulai kehabisan nafas. Kami datang terlalu siang untuk
mendaki dengan santai. Langkah kakiku juga terlalu pendek. Aku memilih untuk
menyerah dan membiarkan yang lain terus melangkah. Untuk sampai ke shelter
pertama saja aku sudah bersyukur. Itu sekitar 1000m diatas permukaan laut atau
sekitar 4 km mendaki. Jika kamu seorang pendaki pasti akan menertawakan
record-ku ini.
Shelter
tempat istirahat ini terlalu dingin dan membuatku merasa lapar. Akhirnya
kuputuskan untuk turun. Beruntung bertemu dengan oppa-oppa korea yang bisa
bahasa inggris. Perjalanan turun ku pun tidak membosankan dan mendapatkan banyak
bantuan dari oppa asal Busan ini. Terima kasih. Aku sangat senang ketika
melihat jalan masuk kita tadi. Artinya aku telah sampai di bawah dan siap meregangkan kaki yang nyut-nyut-an sejak tadi.
![]() |
| source : google |
![]() |
| source : google |
![]() |
| source : google |
![]() |
| source : google |
![]() |
| source : google |
![]() |
| source : google |
Apakah aku menyesal tidak sampai ke puncak? Tentu. Tapi aku masih membutuhkan kakiku untuk berjalan-jalan di jeju beberapa hari ke depan.
Dongmun Traditional Market
Teman-temanku berhasil sampai ke puncak. Setelah itu kita berniat untuk pergi ke Dongmun Market. Kami lelah dan tidak tahu jalan, akhirnya kami tersesat. Sehingga kita memutuskan untuk pulang dan istirahat. Ternyata, dari hotel kami sampai ke Dongmun Market sangat dekat. Itu kita sadari di hari terakhir kami di Jeju. Jika kami berjalan lurus dari R&T Hotel, kita akan ketemu pintu masuk bawah tanah ke Jungang Underground Market. Disana kita bisa membeli baju dan pernak-pernik. Jika kita terus lurus sampai ke ujung, kita bisa naik tangga-tangga dan tiba di Dongmun Market. Lol.
Disana
aku beli coklat dan di Jungang beli kosmetik untuk oleh-oleh dan pernak-pernik
ala korea. Sayangnya, uang won saya habis sehingga tidak bisa membeli banyak
barang lagi. Haha. Plus, aku datangnya di hari terakhir sehingga tidak punya
banyak waktu untuk berkeliling. Karena aku bukan orang yang apa-apa foto, jadi ya foto pasar ini tidak ada.
Sejak sebelum sampai ke Jeju, aku harus sampai ke Jeju Folk Village ini. Tidak akan ada yang percaya aku ke korea jika belum ke sampai ke desa kuno orang korea. Disini pernah menjadi lokasi syuting drama terkenal Dae Jang Geum, sehingga beberapa poster Jang Geum ada di sana. Kita bisa melihat rumah-rumah tradisional korea lengkap dengan penjelasan dan boneka yang menyerupai orang korea zaman dulu. Letaknya di dekat pantai sehingga langit di atas Jeju Folk Village ini sangat indah. Selain ada rumah tradisional korea, ada juga bangunan-bangunan khas korea yang biasa kita lihat di drama saeguk. Oh ya, untuk masuk kesini kita perlu membayar tiket masuk sebesar 11.000 won per orang dewasa. Hmm.. lumayan ya.
Pulangnya,
kita lupa untuk mampir sebentar ke pantai dekat Jeju Folk Village. Sehingga
kita kehilangan kesempatan untuk melihat pantai di Jeju di bawah sinar matahari
yang cerah. Sebab keesokan harinya hujan badai turun mewarnai kegiatan inti
kami.
Jungmun Resort
Lokasi
kegiatan seminar internasional ini di Lotte Hotel Jeju yang letaknya di dalam
kompleks Jungmun Resort. Kami menginap tak jauh dari situ, Jungmun Village,
yang pemiliknya sangat baik, ramah, dan pengertian terhadap segala kekurangan
kami. Di kompleks Jungmun Resort ini terdapat banyak tempat wisata seperti
Teddy Bear Museum dan Museum Play Kpop. Namun, di hari ketiga dan keempat kami
disibukkan dengan kegiatan inti kami, sehingga dua hari itu habis di dalam
Lotte Hotel Jeju. Diluar, badai sedang menerpa pulau Jeju. Matahari yang cerah pergi
untuk sementara. Kami pun hanya bisa melihat Pantai Jungmun dalam balutan cuaca
mendung dan angin kencang.
Aku tidak pernah merasa “makan” selama di Jeju. Makanan yang kami makan memang tidak pas untuk lidah orang Indonesia. Kami sudah makan nasi instan dari convenience store terkenal seperti GS25 dan CU, makan ayam bumbu minimarket, dan makan ramyeon ikan teri yang tidak ada ikan teri nya. Di hari ketiga kami, aku bahkan memesan mie dingin yang kuahnya dicampur dengan es batu. Lol. Di drama reply 1988 aku pernah melihat adegan mereka menyantap mie jenis ini, tapi aku tidak pernah tahu jika kuahnya sedingin ini. Akhirnya aku harus rela mengeluar 12.000 won sekali makan demi bisa mengisi perut. Aku memesan lagi sup tahu pedas yang cukup membuatku merasa sedikit kenyang. Di hari keempat, kita mencoba makan ayam goreng bumbu pedas seperti drama-drama korea. Rasanya? Ya begitulah. Untuk makan ayam goreng sebaskom seperti ini kita perlu mengeluarkan kurang dari 20.000 won jika makan di tempat, dan lebih dari 20.000 won jika delivery.
![]() |
| food street halal di dongmun traditional market |
Hari
kelima datang dengan cepat. Masih banyak tempat yang belum kita kunjungi. Kami
bertolak ke barat Jeju untuk mengunjungi Museum Teh di Jeju. Tempatnya ramai
sekali terutama di bagian penjualan teh. Ternyata disana tidak hanya ada teh
yang bisa diseduh, tetapi kosmetik dari teh, kue dari teh, hingga es krim dari
teh. Everything from tea. Karena sudah merasakan rasa teh nya, aku tidak
excited lagi untuk membeli teh ini. Heheh. Hanya menikmati pemandangan kebun
teh dibawah langit yang masih mendung.
Cheonjeyeon Falls
![]() |
| lagi musim kemarau kali ya, makanya airnya kering. sedang mendung juga jadi tak terlalu terlihat air yang menuju laut |
Masih di hari kelima, kita mengunjungi air terjun Cheonjeyeon. Air terjun ini adalah air terjun yang alirannya langsung menuju ke laut. Karena langit masih mendung jadi kurang terlihat indah laut nya. Air terjunnya juga tidak begitu tinggi. Namun aku salut dengan orang korea yang mampu mendesain tempat wisata seperti air terjun agar ramah pengunjung. Disana juga ada jembatan tujuh bidadari yang berdiri di atas sungai yang dialiri air dari air terjun cheonjeyeon. Dari atas jembatan kita bisa melihat areal tempat wisata ini hingga laut yang ada diseberang. Namun, jika ingin melihat air terjunnya dari atas kita harus menyeberang melalui jembatan ini untuk sampai ke tempat melihat air terjun.
Destinasi
terakhir kami di Seogwipo adalah kembali lagi ke Jungmun Resort demi bisa foto
di depan gedung museum Teddy Bear dan Play Kpop. Hal ini disebabkan karena
harga tiket masuk yang lumayan merogoh kocek sehingga kuputuskan untuk foto di
depan gedungnya saja. Untuk masuk ke museum teddy bear kita harus mengeluarkan
10.000 won per orang dan untuk play kpop sekitar 13.000 won per orang. Jika aku
cukup royal, maka harga segitu tidak terlalu mahal. Lol.
Akhirnya,
perjalanan kami selama 6 hari tidak terlalu membawa kami ke banyak tempat di
Jeju. Menurutku, aku belum puas. Aku ingin kembali Jeju Island dan menikmati
pantai dan air lautnya yang jernih. Oh ya, kami bahkan belum mencoba seafood
nya huhu. Juga, aku ingin kembali ke Korea dan mengunjungi Seoul atau Busan.
Bisakah? Oh Tuhan, tolong kabulkan doaku : )
ditulis di ruang kerja yang 'nyaman'










































Comments