Long Story After Graduation Jilid 2 (Bagian Pertama)



Jika kalian pernah membaca tulisanku tentang “Long Story After Graduation”, maka kalian pasti tahu bagaimana akhir perjalananku mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Bukannya mendapatkan pekerjaan, aku malah mendapatkan kesempatan untuk lanjut kuliah dengan beasiswa. Beasiswa yang aku raih bisa kalian baca di tulisan “PengalamanWawancara Beasiswa LPDP”

Setelah berhasil mendapatkan beasiswa dan kuliah lagi, jalan yang aku lalui ternyata tidak mudah. Seperti yang sudah aku prediksi bahwa semua akan serba sulit dan harus serba memberanikan diri. Namun, karena aku percaya bahwa itu semua adalah jalan yang sudah dibukakan Allah untukku, maka menjalaninya dengan penuh keberanian. 

Namun keberanian yang terbentuk di masa-masa awalku hidup di Jogja, ternyata tidak bertahan sampai akhir. Di tengah-tengah perkuliahan, di masa-masa kejenuhan karena aktivitas yang padat, aku sempat berpikir bagaimana kabarku jika berhasil lulus nanti. 

Apakah aku akan kembali ke masa-masa dimana aku menjalani kehidupan “long story after graduation”?
Apakah aku akan kembali ke masa-masa dimana aku harus berkeliling mengirimkan resume-ku??
Apakah aku akan kembali ke masa-masa dimana aku harus bangun pagi kemudian tidur lagi? 

Jika saat itu aku masih semangat karena baru saja  lulus dari bangku kuliah. Dimana sebagian besar rekan-rekan saya juga berada posisi yang sama. Kami beramai-ramai mencari pekerjaan. keadaannya akan berbeda jika aku lulus nanti. Kemungkinan aku menjadi seorang diri yang mencari pekerjaan. Pemikiran-pemikiran seperti itu menambah beban pikiran dimana rasa percaya diri sudah turun, terlebih karena kesulitan mencari ide untuk tesis. 

Ditambah, di hari-hari terakhir kami di kampus, beberapa teman saya yang juga sama-sama fresh graduate sudah mendapat pekerjaan sampingan. Ada yang ikut project bersama dosen, ada yang menjadi asisten dosen, dll. Setidaknya, setelah memakai toga nanti mereka tidak perlu terlalu kebingungan. Hal itu yang membuatku tidak terlalu excited untuk pergi wisuda. Kebaya wisudaku pun adalah kebaya yang dulu kupakai saat S1. Bukan aku tidak bersyukur, hanya saja aku tidak ingin bermeriah-riah, sementara aku gundah gulana. 

Stay Fool and Stay Hungry yang terlupakan

Stay fool and stay hungry adalah salah satu kutipan dari kata-kata Bill Gates, penemu Microsoft yang sangat terkenal di dunia. Dia mengatakan bahwa dalam hidup kita harus merasa bodoh dan merasa lapar. Dengan begitu kita tidak akan berhenti berusaha dan bekerja. Berusaha untuk menjadi lebih baik dan bekerja agar perut tidak merasa lapar.

Kalimat tersebut menjadi salah satu tamparan besar saat aku berusia 22 tahun. Saat baru lulus kuliah. Dan saat aku kemudian menjadi sadar akan kesombonganku.

Ada satu juga kutipan dari Iman Syafii yaitu setiap kali ilmuku bertambah maka bertambah pula kefahamanku bahwa ternyata aku masih bodoh. Dan, kata Mario Teguh. Jadilah orang bodoh di antara orang-orang pintar, dan janganlah menjadi orang pintar di antara orang-orang bodoh.

Entah mengapa aku lupa akan semua kalimat motivasi-ku saat masih berada dalam masa-masa pencarian. Di tahun-tahun terakhirku di kampus juga aku mengikuti beberapa tes pekerjaan. Setidaknya aku mencoba untuk tidak mencari kerja lagi jika aku mengenakan toga nanti.

Pertama..

Tes pertama yang aku ikuti adalah penerimaan staf GAVI yang merupakan NGO bidang vaksin yang dimiliki Bill Gates. Berada di bawah Kemenkes dan mereka sedang mencari staf untuk lima tahun ke depan. Aku mendapatkan panggilan tes dan wawancara di Jakarta. Walaupun aku tidak punya gambaran apapun tentang tes yang akan diberikan dan juga tentang jobdesk GAVI.  
Aku hanya mencoba peruntungannku dan memberanikan diri berangkat ke Jakarta. Disana aku bertemu dengan orang-orang baru. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja  dan mencoba mencari kerja lagi. Ada yang lulusan s1, ada yang lulusan s2, ada yang baru akan lulus s2, bahkan ada yang sudah punya buanyaak pengalaman. Melihat mereka semua sebenarnya aku sadar kalau tempatku bukan disitu. Namun, tidak ada salahnya mencoba. Walaupun saat pengumuman, aku tahu aku tidak mendapat tempat disana.

Satu hal yang aku sesali adalah mengapa aku tidak bersungguh-sungguh mencari tahu dan mempersiapkan diri sebelum tes. Kesalahan ini tidak membuatku belajar. Aku semakin merasa pintar dan kekenyangan, bahkan di tes pekerjaan kedua.

Kedua...

Aku merasa bangga saat dulu bisa lulus tes CAT untuk seleksi penerimaan CPNS tahun 2014. Oleh karena itu, aku merasa pasti bisa melewati tes CAT di seleksi penerimaan CPNS 2017. Aku mendaftar sebagai Penyuluh KB di BKKBN Pusat. Hal ini disebabkan karena formasi untuk kesehatan masyarakat tidak terlalu banyak di seleksi penerimaan kali ini. Kemudian aku hanya uji coba, kalau lulus bagus, kalau tidak ya sedih sebentar saja. Karena tidak terlalu serius, akhirnya aku kembali tidak mempersiapkan diri dengan baik sebelum tes. Padahal aku mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pergi Jakarta. Biaya PP Jakarta Jogja untuk verifikasi berkas, dan biaya PP lagi pada hari tes. Saat aku melihat skor nilai di layar komputer, seketika itu juga aku sadar, aku menjadi terlalu sombong karena tahun lalu bisa lulus, kemudian tidak belajar kali ini. Skor nilai itu seperti menertawaiku. Dia seperti mengatakan, “Apakah kau sudah cukup hebat untuk merendahkan soal tes??”

Aku kemudian memutuskan pulang ke sini. Ke kota yang membesarkanku. Ke kota tempat seharusnya aku kembali setelah menyelesaikan studi, seperti janjiku pada interviewer saat interview beasiswa.

Perjalananan penuh kesabaran

Kesabaran adalah salah satu hal yang harus aku miliki setelah lulus. Setelah berdamai dengan semua rasa sedih karena gagal, aku kemudian kembali ke sini. Ke kota yang membesarkanku. Di kota ini awal aku bisa melangkahkan kakiku kepada impian-impianku. Sembari berharap bahwa takdir rejekiku ada disini. Dan Tuhan tidak tidur serta selalu menepati janjinya. Belum sebulan aku diterima sebagai dosen luar biasa di Fakultas yang pernah menolakku dua kali untuk belajar disini. Meskipun aku tidak tau berapa bayaran yang aku terima, namun aku tetap semangat karena this is the first time i will be a lecturer, aww!

Semangat bisa menempuh pekerjaan impian meskipun baru sebatas dosen honorer ternyata membuatku lebih sabar mengatasi masalah keuangan. Aku berusaha keras untuk menjadi dosen honorer ini. Pertama usaha untuk membuat materi yang berkualitas dan belajar untuk bisa memaparkan di depan mahasiswa. Dan kedua adalah usaha untuk tidak gugup dan gagap di depan mahasiswa, because this is the first time for me.

Setiap melihat bagaimana mahasiswa mengangguk-angguk entah benar-benar mengerti atau hanya berpura-pura, aku sudah merasa senang. Aku senang bisa membagikan ilmu (walau baru sedikit) kepada mereka. Senang sekali. Saking senangnya aku merasa tidak terlalu kecewa ketika tahu honor yang akan aku dapatkan dibayarkan per semester. Haha! Itu ikhlas atau bodoh? Menurutku itu adalah awal dari bagaimana aku membayar semua uang-uang negara yang membantuku kuliah sejak S1 dulu. Aku bersyukur dan aku yakin rasa sabar ini akan berbuah suatu saat.

(to be continued)

Diselesaikan di ruang kerja yang ‘sedikit’ dingin

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y