Long Story After Graduation Jilid 2 (Bagian Terakhir)
Kembali ke
kota yang membesarkanku selalu memberikan kesan yang berbeda. Ada perbedaan
diriku setelah kembali dengan gelar s1 dan kembali dengan gelas s2. Aku menjadi
lebih rendah diri dan merasa bukan apa-apa. Selalu tersenyum dan sangat
berbesar hati. Selalu sabar seperti yang kutuliskan di cerita sebelumnya. Jika
dulu setelah lulus strata satu aku tidak sabar untuk bisa bekerja. Aktif kesana
kemari untuk mencari pekerjaan. Maka, saat ini aku merasa lebih ingin bebas dan
menikmati hidup dari hari ke hari. Bukan aku trauma. Benar awalnya aku takut
akan usaha-usaha gagalku dulu terulang. Tetapi setelah kembali kesini, aku
tidak merasakan hal itu lagi. Aku menjadi lebih pasrah pada apapun takdir
Tuhan. Mencari kerja tentu tetap dilakukan, tetapi tidak ngoyo seperti dulu. Aku benar-benar pasrah. Haha!
Itu semua karena
aku berpegang pada apa yang disebut :
“Sekuat apapun kamu berusaha, kalau itu
bukan untukmu maka itu tidak akan menjadi milikmu”
dan
Allahuma Qoni’ni bimaa razaktani wabariklifihii wakluf alaa kulii
syaiin qadiir.
Aku sudah
berjanji tidak akan mengacaukannya dan berjanji akan ikhlas apapun yang Tuhan
putuskan nanti. Januari 2018 aku mendapat kabar bahwa lamaranku untuk mengajar
di kampus diterima. Ya walaupun sebagai dosen luar biasa. Aku tetap semangat
dan optimis juga positif thinking
atas kegiatan baruku. Seperti api yang baru berkobar jika tidak terus diberikan
bara makan akan padam. Seperti itulah semangatku menjadi dosen luar biasa di usia
yang masih bau kencur ini, awalnya semangat lama-lama kemudian hilang.
Satu-satunya hal yang bisa membuatku tetap pergi mengajar adalah karena aku
merasa sedang memupuk amalan. Membagikan pengetahuan kepada orang lain.
Satu
semesterpun akhirnya dilalui. Suka dan duka menyelimuti hari-hari yang kulalui
sebagai dosen luar biasa. Jelas tidak mudah, karena menjadi dosen luar biasa
adalah murni pengabdian. Pendapatan yang diberikan sebagai bayaran atas kerja
keras itu hanya bisa disyukuri. Rasa sabarku pun mulai diuji.
Setelah
satu semester berlalu, aku mulai berpikir apakah akan terus seperti ini?
Masa-masa inilah dimana masa-masa terberat kedua dalam hidupku. Masa-masa
dimana aku benar-benar merasakan sakit kepala dan bingung harus melangkah. Kebuntuanku
kembali. Lebih parah dibandingkan masa-masa sulit saat aku lulus s1, lulus s2,
atau bahkan saat aku harus hidup dengan bantuan tongkat untuk berjalan
sehari-hari. Ya! Mereka biasa bilang bahwa ini adalah quarter life crisis. Masa dimana kamu mempertanyakan banyak hal
dalam hidupmu. Apa kegunaan hidup di dunia ini. Apa yang sudah kamu lakukan
selama ini. Masa-masa dimana melihat media sosial tampaknya hanya memperburuk
perasaanmu. Disaat itu, aku benar-benar bingung. Makan susah, tidur susah,
semuanya susah.
Seperti ada
sebuah batu besar di atas kepalaku yang membuatku kehilangan keseimbangan dalam
berjalan. Aku dituntut untuk mengambil sebuah keputusan berat. Apakah aku akan melanjutkan
kegiatanku disini, atau kembali ke kampung halaman. Masing-masing sebenarnya
tidak ada kepastian. Jika aku tetap disini, aku belum tahu apakah aku akan
diangkat menjadi pegawai tetap. Kemudian aku harus menghidupi hidupku selama
itu dengan gaji DLB. Sebab orangtuaku yang sudah pensiun akan pindah dan
menetap di kampung halaman. Jika aku kembali ke kampung halaman, aku bisa
menjadi pegawai honorer di salah satu instansi disana. Namun itu berarti aku
harus melupakan mimpiku untuk menjadi seorang dosen. Berat sekali.
Aku bingung
harus melangkah kemana. Hingga kemudian Allah membukakan ku sebuah jalan.
Aku yakin
Allah tidak akan membiarkanku dalam kebuntuan ini. DIA akan selalu menunjukkan
kepada kita jalan yang benar. Dan itu aku alami setelah banyak doa kepada-Nya. Semua
terasa seperti jawaban dari-Nya. Saat itu tanggal kepulangan orangtuaku
ditunda. Artinya aku harus menetap selama sebulan lagi disini. Di saat yang
sama, pengumuman penerimaan CPNS 2018 keluar. Akhirnya aku memilih untuk tetap
tinggal. Menjalani kehidupanku lagi sebagai dosen DLB dan mendaftar CPNS untuk
menjadi pegawai di tempat mengajarku saat itu.
Aku
antusias sekali mengikuti serangkaian tes ini. Kenapa? Karena aku tidak ingin
gagal lagi. Aku mengingkan pekerjaan ini dan aku akan berusaha semaksimal
mungkin. Mungkin orang lain merasa bahwa keberuntungan yang membuatmu bisa
lulus tes. Tapi bagiku, usaha adalah cara agar bisa lulus. Selagi menyiapkan
bahan ajar, aku juga belajar mati-matian soal-soall TKD CPNS. Pokoknya di tes
ketiga ini, aku harus bisa lolos sampai akhir.
Kemudahan
demi kemudahan Allah berikan padaku dalam menjalani tes kali ini. Sehingga aku
yakin, jika sesuatu ditakdirkan untuk kita maka Allah akan berikan kemudahan
dalam setiap langkah kita.
Hasil tidak mengkhianati usaha dan doa
Aku percaya bahwa
dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan aku percaya bahwa sekuat apapun kita
berusaha kalau itu bukan untuk kita maka tidak akan menjadi milik kita.
Rejeki itu memang tidak akan tertukar. Allah sudah memporsinya masing-masing
pada kita. Ia mengatakan bahwa rejeki itu terbagi dua, yaitu rejeki yang memang
rejeki kita dan rejeki yang datang dari kemurahan hati Allah pada hambanya yang
taat. Aku mengerti sekarang, mungkin Allah sedang menyiapkan rejeki yang tidak
akan tertukar dan untuk mendapatkan rejeki dari kemurahan hati Allah istilahnya
bonus, maka aku harus lebih menyanyangi-Nya, Allah SWT.
Tapi sebelum dari semua itu, seharusnya kita selalu bersyukur.
Karena tanpa kita sadari sebenarnya Allah telah mengabulkan doa-doa kita.
Mungkin bukan doa-doa yang besar seperti ingin naik haji, punya rumah, dll.
Tapi Allah mengabulkan doa-doa kita yang sangat kita butuhkan. Misalnya ketika
meminta keberanian maka Allah kabulkan dan tanpa kita sadari kita menjadi lebih
berani. Pun seperti kita meminta ketenangan hati dan kesabaran. Allah langsung
mengabulkannya. Terbukti setelah kita berdoa padaNya, kita menjadi lebih tenang
dan sabar dari sebelum kita berdoa.
Allah SWT tidak hanya mendengar doa kita yang keluar dari bibir,
Allah juga mendengar suara hati kita. Allah tahu mana yang baik untuk kita
sementara kita tidak tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Maka ketika kita tidak
diberi yang kita inginkan percayalah Allah akan memberi yang kita butuhkan.
Dan Allah menggenggam semua doa yang satu per satu akan Allah
kabulkan di waktu yang tepat. Percayalah...
Dan karena aku percaya
kepada-Nya. Aku melihat bagaimana Allah mengabulkan doa-doa itu di waktu yang
tepat. Setelah berjuang cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan, Di usiaku yang
sudah menginjak 27 tahun, Allah mengabulkan doa-ku, impianku setelah berjuang
cukup lama.
See.. selepas semua
kesabaran dalam menjalani hari-hari mengejar impian, Allah akhirnya memberikan
apa yang sudah aku usahakan.
Believe Than Seeing It’s Amazing-- Terasa lebih
mengharukan ketika rasa percaya itu kemudian terbukti. Seperti kata Ali Bin Abi
Thalib Radiallahu anhu : Yakinlah ada
sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan
membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.
Alhamdulillah. Semoga
di sisa perjalanan hidup mencari ridha-Nya ini, Allah akan terus membantu kita dalam
setiap langkah.
-Sekian-
*) next Long Story To
Get Married? :D
Diselesaikan
setelah menyelesaikan satu drakor :D

Comments