KIM JI YOUNG : BORN 1982
“Dokter, terkadang aku merasa baik-baik saja hidup seperti ini. Menjadi seorang ibu, menjadi seorang istri. Terkadang aku merasa bahagia. Tapi terkadang, aku merasa seperti terkunci di suatu tempat.”
Baru
saja menonton ulang film korea yang trending di negaranya sendiri. Sebab, waktu
nonton di bioskop kemarin aku ketiduran. Bukan karena gak bagus, tapi kala itu
aku benar-benar lelah. Nonton setelah Lastar CPNS memang salah. Karena yang
sebenarnya dibutuhkan bukan hiburan, tapi tidur. Haha! Oke skip.
Semenit
setelah kelar nonton film ini, tiba-tiba sahabat saya mengirim chat di grup whatsapp.
“Kalian
pernah gak ngerasa takut nikah?”
WKWK.
Lha kok pas bener?
Kim
Ji Young Born 1982 ini adalah film yang mengusung tema kesetaraan gender.
Selama hampir 118 menit film ini menyajikan kehidupan perempuan yang sebenarnya
dialami hampir oleh semua perempuan di dunia ini. Bukan hanya pada saat setelah
menjadi seorang istri, prinsip patriaki bahkan sudah dihadapi kaum perempuan
sejak masih kecil. Kesempatan untuk sekolah dan bekerja diberikan pada
laki-laki, sementara pada perempuan tidak terlalu dipaksakan. Masih banyak
anggapan ketika melihat perempuan tak sekolah dan bekerja adalah hal yang
wajar, sementara laki-laki sudah semestinya bersekolah dan bekerja. Tak
terkecuali di negara Korea Selatan, yang terkenal sangat maju itu ternyata
menganut prinsip patriaki yang tidak biasa. Beberapa kali melihat dalam drama
dimana perempuan selalu dianggap lemah dan tak dapat mencapai posisi tertinggi
karena kodratnya sebagai perempuan yang nantinya akan hamil, melahirkan, dan
menyusui. Kodrat seperti ini tak memberikan kesempatan pada perempuan untuk
menjadi lebih dari kegiatannya selama ini. Tak sedikit dalam beberapa drama
yang kutonton, perempuan yang bekerja memilih untuk tidak memiliki anak
terlebih dahulu.
Bahkan
di dunia perempuan yang sudah menikah, masih banyak budaya patriaki yang masih
dijunjung tinggi. Seperti kebanyakan wanita karir melepaskan impiannya untuk
bekerja di rumah mengurus anak dan suami. Perempuan yang sudah menikah harus
menjadi anak perempuan baru di rumah mertua, membantu melakukan semua pekerjaan
perempuan sebagai menantu. Bahkan mungkin menjadi lebih rajin di rumah mertua
dibandingkan di rumah sendiri.
Perasaan
depresi kemudian hadir ketika kita menipu diri kita dengan merasa baik-baik
saja dengan keadaan yang berubah secara tiba-tiba. Perempuan yang awalnya penuh
semangat mengejar impian dalam di dunia kerja, kemudian berubah menjadi seorang
ibu yang selama 24 jam mengurus anak dan suami. Belum lagi pandangan mertua
pada menantu yang menganggap bahwa semua pekerjaan rumah semestinya hanya dilakukan
oleh perempuan. Kemudian, pandangan orang sekitar yang menanggap menjadi ibu
rumah tangga adalah sesuatu yang santai dan mereka hanya menghabiskan uang
suami untuk bersantai. Terlalu banyak stigma yang kemudian membuat depresi Kim
Ji Young semakin menjadi. Namun, dia bahkan tak mampu untuk mengatakan pada
keluarganya karena keluarganya sangat mengusung budaya ini. Ketika Ayah dan
Neneknya lebih mempedulikan adik lelaki satu-satunya daripada anak
perempuannya. Semua kemudian dipendam sendiri oleh Ji Young, tanpa tahu harus
melakukan apa. Ia kemudian merasa hampa. Kulihat seperti tak ada kebahagian
menjadi seorang ibu, selain melakukan rutinitas yang dikatakan semua orang
adalah kewajiban perempuan.
Bagusnya,
Ji Young memiliki suami yang peka. Suami yang lebih memedulikan kesehatan
mental sang istri, meskipun di sini dia kesulitan untuk mengatakan kebenaran
pada Ji Young.
Endingnya,
setelah Ji Young mengetahui kebenaran bahwa ia mengalami depresi terselubung.
Ia mengunjungi psikiater. Solusi dari semua kekalutan Ji Young selama ini
ternyata adalah menemukan kebahagiaan. Ji Young diminta untuk melakukan apa
yang membuatnya merasa bahagia. Seperti menemukan kembali dirinya yang hilang.
Ternyata kesukaannya menulis (karena ia lulusan sastra korea) adalah hal yang
membuatnya menjadi lebih bahagia. Kemudian, untuk urusan rumah tangga kemudian dia dan suami saling membagi waktu, seperti melakukan kerjasama. Sebenarnya inilah yang dibutuhkan sih, suami yang tidak menganggap istri melakukan kodratnya, melainkan bahu-membahu menyelesaikan urusan rumah tangga. Happy ending deh kisah Kim Ji Young~
Mengungkapkan apa yang kita rasakan
melalui tulisan adalah one of healing.
Seperti yang sedang kulakukan (Lho?)
Kembali ke pertanyaan sahabatku,
sebenarnya setelah melihat film ini kemudian timbul perasaan takut untuk
menikah. Terutama ketika sudah memiliki anak. Akahkah aku sanggup untuk
merawatnya seperti orang tuaku merawatku? Terutama ditengah kesibukanku dengan
pekerjaan saat ini? Sanggupkah aku membagi waktuku? Bagaimana jika aku akan
memiliki Depresi Pasca Melahirkan?
Sementara untuk masalah patriaki, aku
bersyukur terlahir dari keluarga yang tidak terlalu menjunjung budaya ini.
Orang tuaku sangat mendukung apa yang aku impikan, mau bersekolah sampai
setinggi apa. Bahkan waktu aku lulus S2 di usia 25 tahun, mereka bangga tapi
juga kaget karena ternyata ada yang lebih muda dari aku. Meskipun dulu kakekku
melarang kuliah anak perempuannya, tapi itu terjadi di zaman dulu. Anak-anak
kakekku kemudian memandang bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan
yang sama untuk sekolah dan bekerja. Semua dikembalikan pada pilihan hidup.
Oh
ya, paduan Gong Yoo Ahjussi dan Jung Yu Mi memang menghasilkan film yang
berkualitas (Train To Busan dan Silenced)
Puyeng
baca data SKDI, rehat sejenak nonton film :D
Tasangkapura,
Papua

Comments