L U N C H
Sakit memberikan dampak penurunan nafsu makan. Orang yang sakit tidak memiliki selera makan bahkan jika makanan yang disajikan adalah makanan kesukaan mereka. Saat sakit, tubuh memproduksi zat kimiawi yang disebut cytokines, yang memiliki berbagai efek dan menyebabkan penurunan selera makan.
Sejak hari paling menyedihkan itu yang membuatmu menjadi dalam kondisi sakit, tubuhmu tak sanggup melangkah pasti. Makan pun menjadi tak teratur. Padahal makan akan memberimu tenaga untuk pura-pura bahagia.
Tubuhmu tak bisa bergerak ketika jiwamu terluka parah. Sehabis berdoa, jiwa ini kembali rapuh. Seperti kemudian kita merasa hanya ingin berada di atas sajadah terus. Karena dengan begitu, kita merasa tidak sendirian, dan merasa kuat. Bisa terus bercakap-cakap dengan-Nya. Selama ini karena kamu begitu jauh, moment ini membuatmu tak ingin berpisah dengan-Nya. Begitu kita menggulung sajadah maka perasaan jiwa-jiwa yang terluka itu kembali hadir. Kondisi sakit ini membuat semua nafsu sebagai manusia menjauh. Tak ada keinginan untuk meneruskan hidup dan lain-lain.
Padahal,
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىؕ -
Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula)
membencimu...
Lalu kenapa tentang makan siang?
Setelah kehilangan nafsu makan itu, kemudian ada orang yang datang dari jauh hanya untuk mengantarkan makan siang. Then, i smile. I eat well, that time.
Aku menjadi sadar ada hal yang harus
disyukuri di dunia ini; bisa makan dan punya nafsu makan. Ada orang yang
memiliki makanan tapi tak punya nafsu makan, lalu ada orang yang ingin makan
tapi tak punya makanan. Karena itu aku berhenti membeli makanan berlebihan,
karena tak ingin membuang makanan sementara diluar sana banyak orang yang tak
bisa makan.
Udah. Gitu aja :)
Ditulis setelah seharian meraung kesakitan
Comments