Pertengahan Tahun 2020 : Kehilangan Demi Kehilangan




Kehilangan adalah pengingat; bahwa tak semua hal benar-benar milikmu seutuhnya. Tidak semua hal abadi ada denganmu selamanya - Boy Chandra 

            Saya rasa tak ada yang pernah menyangka bahwa tahun 2020 akan berlalu dengan begitu aneh dan tak biasa. Sejak kemunculan virus corona jenis baru di China dan sampai hari ini, dunia berubah menjadi sesuatu yang baru. Kita harus tinggal di dalam rumah, membatasi ruang gerak kita di luar rumah, membatasi aktivitas pertemuan dengan manusia, tidak bisa mudik lebaran, tidak ada sholat tarawih, tidak ada sholat idul fitri, dan yang baru-baru saja diumumkan adalah tiadanya ibadah haji di tahun ini. Sungguh sebuah tahun yang penuh hal yang tak biasa. Bahkan, kesedihan dan air mata menjadi lebih banyak di tahun ini. 

            Setiap hari kita mendengar berita tentang coronavirus diseases. Jumlah kasusnya yang meningkat, jumlah kematiannya, jumlah mereka sembuh. Sangat sedih sekali melihat banyak orang yang kehilangan orang-orang yang terkasih karena penyakit baru ini. Sangat sedih melihat banyak orang yang terpaksa tak biasa bersua di hari kemenangan tahun ini. Sangat sedih melihat banyak orang yang kemudian harus menunda acara-acara bahagia. 

            Dan di tahun ini, di antara tangisan banyak orang, Allah juga menakdirkanku untuk ikut menangis. Kehilangan demi kehilangan ia berikan padaku. Sungguh, bulan puasa yang harus dilalui dengan banyak air mata dan perasaan pasrah pada setiap ketetapan-Nya.

            Kehilangan yang pertama belum dapat kutuliskan di sini. Bahkan untuk mengingat itu aku masih tak sanggup. Sebab memori tentang dia adalah ingatan yang sangat ingin aku hapus. Maka, lebih baik tak perlu diingat daripada hanya membuatku bertambah tak mampu untuk meneruskan hari-hari. 

Hati ini masih punya luka yang belum sembuh. Kemudian Allah menambahkan lagi kehilangan berikutnya. Allah memanggil adik mamaku yang sudah kuanggap seperti mama ku juga. Rasanya sangat sakit sekali, tak percaya beliau pergi secepat ini. Oleh karena itu, aku akan menuliskannya. Sebab ingatan tentang Mamabia adalah ingatan yang tak boleh hilang meskipun sakit sekali mengetahui tak bisa bertemu dengan beliau lagi. 

Penyesalanku adalah karena aku begitu sibuk menangisi orang yang tak penting sampai lupa menghubungi Mamabia ketika dia mengeluh sakit. Sebelum hari raya idul fitri, Mamabia mengatakan kalau dia hampir pingsan setelah pulang dari pasar yang membuatnya harus membatalkan puasanya. Kemudian beliau mengabarkan kalau baru saja mendapatkan banyak pesanan untuk idul fitri. Tanteku ini pandai memasak sehingga banyak yang memesan masakan atau kue-kue dari dia. Meskipun sebenarnya tidak suka karena pesanan datang di hari-hari terakhir idul fitri, tapi beliau merasa tidak enak hati untuk menolak. Akhirnya, beliau menerima semua pesanan itu dan menyelesaikannya. 

Di hari idul fitri, beliau kembali mengeluh. Beliau mengatakan sakit kepala. Karena selama ini berpikir bahwa beliau sehat, jadi kusimpulkan itu akibat dari kelelahan menyiapkan pesanan. Besoknya, beliau mengatakan lagi kepadaku bahwa beliau menggigil. Sungguh bodoh aku saat itu, ketika hanya kubalas bahwa mungkin beliau kena malaria dan menyarankan untuk beristirahat karena banyaknya pesanan yang harus diselesaikan sebelum idul fitri kemarin. Aku menyesal tidak meneleponnya untuk menanyakan lebih lanjut mengenai rasa sakitnya, mungkin saja aku bisa mengarahkannya untuk ke dokter lebih awal dengan gejala-gejala yang ia sebutkan. Apalagi aku mempelajari gejala-gejala penyakit dalam ilmu yang kupelajari 6 tahun lebih. Tapi tidak kulakukan karena aku yang begitu bodoh tengah memikirkan hal yang sungguh tidak penting dalam hidupku. Aku menyesal sekali. Bahkan ketika aku tahu beliau dilarikan di rumah sakit, aku masih sibuk mengurusi patah hatiku. 

Hingga di dini hari di 30 Mei 2020, aku mendapat kabar bahwa beliau telah pergi untuk selama-lamanya. Aku benar-benar tidak siap untuk mendengar kabar itu. Tangisan kami sekeluarga pecah di tengah malam yang dingin itu. Tak percaya bahwa bibi yang sangat baik hati itu kini telah tiada. Aku benar-benar menyesal tak meneleponnya kemarin. Aku benar-benar menyesal. Aku bahkan tidak tahu kalau beliau dilarikan ke ruang isolasi karena dicurigai menderita covid19. Sungguh remuk sekali hati ini. Aku menyesal kenapa aku begitu sibuk dengan urusan lain sampai tidak menelepon beliau di saat-saat terakhirnya. Aku sungguh menyesal. Aku sungguh menyesal tidak mendengarkan suaranya untuk terakhir kali.  

Dengan kondisi bandara yang tutup dimana-mana dan adanya virus-virus ini, kami yang jauh dari Sulawesi tak bisa pulang. Hanya doa yang bisa kami kirimkan untuk mengiringi kepergian beliau yang sungguh baik dalam kehidupanku. 

Sebelum lebaran, beliau meneleponku dengan begitu semangat ketika mengira aku akan datang untuk lebaran kali ini. Aku bahkan berjanji padanya untuk datang bulan Juni ini dan memakan kue kering buatannya. 

Kini jika aku pulang, tak ada lagi yang menyambutku dengan hangat, memasakkan masakan kesukaanku, memberikan rasa nyaman di kampung yang sebenarnya asing bagiku. Tidak ada lagi orang yang dapat aku telepon ketika aku galau dan tidak tahu bercerita ke siapa. Meskipun aku tidak menceritakan masalahku, tapi mendengarnya bercerita sudah cukup membuatku tenang bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. 

Ya, kita tidak pernah tahu kapan orang yang kita sayangi akan pergi untuk selama-lamanya. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah terus membuat memori yang indah. Tapi aku sedikit bersyukur, karena di awal Januari aku menyempatkan pulang kampung setelah hampir dua tahun tak pulang. Bertemu dengan beliau, membuat memori yang indah pada ulang tahun sepupuku, dimasakkan cumi-cumi kesukaanku, bahkan beliau memasakkan cumi untuk kubawa ke Jayapura. Sungguh, aku merasa kehilangan sosok yang begitu hangat dalam hidupku. Meskipun aku selalu sok sibuk, dia tidak pernah tidak mengirimi pesan di whatsapp untukku. Andai waktu bisa diulang kembali, aku ingin menjadi orang yang tidak sok sibuk. 

Aku masih ingat awal tahun itu, ketika kakiku keseleo akibat salah turun tangga. Beliau langsung sigap mengambil air hangat untuk mengurut kakiku yang keseleo, disaat semua orang hanya memberikan saran, beliau langsung turun tangan. Aku benar-benar rindu. Aku benar-benar kehilangan.

Ditulis untuk mengenang bibi yang baik hati dalam hidupku
Bibi yang membuatku menginjakkan kaki di Jayapura
Bibi yang selalu memberikan kasih sayang pada kami keponakanannya meskipun hidupnya juga sedang sulit
Bibi yang selalu mengajarkan sabar dan ikhlas pada setiap ketetapan-Nya
Bibi yang mengajarkan kami untuk terus bekerja keras meskipun terlahir sebagai perempuan

Sekarang bibi bisa beristirahat dengan tenang
Kami selalu berdoa bibi mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Tasangkapura, 3 Juni 2020


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y