Pertolongan Allah Selalu Tepat Waktu—1 : Ketika kamu Ikhlas


Danau Unhas


Proposal belum finish, tapi tulisan blog lancar terus. Ya udah, mumpung banyak yang pengen ditulis jadi kita buat memori disini saja. Kelak, tulisan-tulisan disini akan mengingatkan banyak hal di masa depan.

Mau bercerita sekaligus bentuk syukur aku ke Allah atas semua pertolongannya ke aku. Di judul ada tulisan angka satu (1), karena ini bagian pertama dari sekian banyak pertolongan Allah ke aku di saat-saat sudah down.

Sewaktu duduk di bangku menengah atas, pernah ngobrol dengan teman sebangku tentang dream. Impianku waktu itu adalah ingin kuliah di luar kota dengan beasiswa. Kenapa diluar kota? Karena sejujurnya waktu itu aku sudah bosan dengan Jayapura, plus gak terlalu tertarik untuk kuliah disini. Bukan karena enggak bagus, tapi pengen mencari suasana baru saja. But, aku gak tau harus masuk jurusan apa jika kuliah nanti.

Fisika? Aku suka fisika, tapi sepertinya otakku tak sanggup untuk belajar itu selama empat tahun.

Komputer? Ya! Karena suka sekali depan komputer, otak atik software, belajar coding website, dan lain-lain, aku putuskan untuk ingin masuk jurusan ini.

Planologi? Hmm.. ini istilah yang baru aku dengar sejak kakak sepupu aku menikah dengan seorang sarjana planologi. Kok kayak keren buat tata kota gitu? Oke, kujadikan pilihan keduaku.

Dan diantara semua pilihan dan cita-cita yang aku inginkan itu, aku malah masuk jurusan yang lain. Haha!

Seperti yang seharusnya dilakukan anak-anak adalah berkonsultasi dengan orang tua. Setelah aku sodorkan keinginan-keinginanku, orangtua malah menyarankan aku untuk mengambil jurusan di bidang kesehatan. Hmmm..

Jujur, aku tak pernah tertarik untuk menjadi dokter, perawat, bidan, apoteker, dll. Mungkin karena aku tak suka berinteraksi dengan orang lain makanya aku tidak pernah memimpikan profesi itu. Sebab yang ada dibayangan aku saat itu adalah jika aku dokter atau perawat atau bidan maka aku harus look care ke orang lain. Sementara aku sebenarnya cukup introvert ke orang baru. Akhirnya, aku menolak untuk mengambil jurusan di bidang kesehatan.

But.. ada salah satu jurusan kesehatan yang baru pertama kali aku dengar yaitu Kesehatan Masyarakat. Apa itu?? Bahkan saat aku mendaftar untuk jurusan ini, aku belum tahu apa itu KesMas. Haha! Aku hanya mendengar saran dari orang tua yang mengatakan kalau jurusan ini bagus dan banyak dibutuhkan. Wkwk..

Saat duduk di kelas 3, kita mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional. Ternyata SMA aku bekerja sama dengan beberapa universitas untuk mendaftarkan siswa-siswa lewat jalur Pemanduan Potensi belajar atau yang sekarang dikenal dengan SNMPTN Undangan atau SNMPTN saja. Kalau di zaman aku dulu (tua juga ya :P), jalur ini hanya mensyaratkan kita untuk mengirimkan hasil raport per semester dan membayar sejumlah uang pendaftaran tanpa tes masuk. Aku semangat sekali mengikuti ini. Akhirnya aku daftar di beberapa universitas yang bekerja sama dengan SMA aku, seperti Uncen, Undip, UNS, Unpad, dan Unhas. Aku pengen daftar di UGM juga, tapi disana tidak ada S1 Kesmas.

Semester kedua kelas 3 pun datang, selain UN, aku deg-deg-an juga sama hasil daftar-daftar universitas yang aku daftar. Setelah UN, datanglah pengumuman-pengumuman itu. Hasilnya???

Jeng jeng...

Aku tidak lulus di Uncen, Undip, UNS, Unpad dengan jurusan yang sama, yaitu KesMas. Hehe.

Kecewa? Jelas

Bingung? Jelas

Aku harus kemana??

Aku ngelihat sahabat-sahabat aku sudah punya tujuan. Ada yang sudah diterima dan ada yang sedang berjuang juga. Terus aku sendirian kebingungan mau kemana. Saat itu aku ketemu Ririn yang ternyata gak jadi mengambil jurusan Teknik Sipil. Padahal dia sudah diterima. Kita pun sama-sama mendaftar di Uncen (lagi).

Aku mendaftar juga di salah satu kampus swasta di Jayapura dan mengambil jurusan Planologi. Plus, aku daftar lagi SBMPTN (waktu itu namanya itu, kalau sekarang UTBK) di Uncen dengan mengambil jurusan KesMas lagi.

Sembari menunggu waktu ujian. Aku berdoa kepada Allah. Aku pasrah apapun pilihan Allah karena itu pasti yang terbaik. Dan keikhlasan itu ternyata membawaku pada sebuah jalan yang tidak pernah aku bayangkan.

Ya!

Aku lupa kalau Unhas belum kasih pengumuman. Seminggu sebelum ujian SBMPTN, aku dipanggil sama guru BK yang waktu itu daftar2in kita ke Unhas. Kata beliau aku dan Andi Ilmi (temen aku) diterima di Unhas. Alhamdulillah. Waktu itu aku merasa seperti melewati jalan keluar yang diberikan Allah atas kesabaran dan keikhlasan aku. Dan, buah dari kepasrahan saat itu adalah Allah kasih bonus. Bonusnya apa?

Beasiswa!

Ya!

Mungkin, saat aku berbincang dengan teman aku saat kelas dua SMA itu, ada malaikat yang lewat dan mengaminkan doaku.

Juli 2010, berangkatlah aku ke universitas si Jago Merah, belajar KesMas yang mengantarku pada duniaku sekarang.


KesMas A masih muda



Believe than seeing, memang luar biasa.

Ikhlas saja, Allah tahu yang terbaik kok. Yang penting doa dan ikhtiar jalan terus.

Sampai jumpa di bagian kedua

 

Headache karena telat makan (lagi)

Overthinking pulak

Eh jadinya tulisan (curhat)

Night from Tasangkapura

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y