SILENCED (2011) : KETIKA PELAKU PELECEHAN SEKSUAL DIHUKUM TAK PANTAS
I was there when she was being abused but I haven’t done anything. If I let go of her hand now, I don’t think I can be a good father to Sol, either.
Kang In Ho
Sehabis
baca-baca data SKDI Remaja tentang Kespro dan kehamilan remaja, gak taunya
keinget sama film lama Korea yang mengangkat isu pelecehan seksual. Karena
penasaran, jadi kuputar lagi film ini sembari berharap ada ide tentang judul
penelitian kali ini:D
Silenced
(2011) adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi di salah satu
sekolah tunarungu di KorSel. Beberapa anak yatim dan mengalami kecacatan justru
menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru dan pimpinan di
sekolah tersebut. Kasusnya berhasil dibawa ke pengadilan. Guru dan pimpinan
sekolah tersebut ditetapkan sebagai tersangka. Bukti pun sudah cukup kuat untuk
menjerat pelaku, namun uang yang bermain di atas keadilan. Ketiga tersangka
hanya dihukum ringan untuk kejahatan yang mereka lakukan terhadap anak di bawah
umur. Terlebih karena salah satu pelaku adalah orang yang cukup terpandang,
rajin beribadah, dan lain-lain. Bisa dikatakan dia sukses lah menjadi iblis
dibalik topeng kerohanian, sehingga banyak rekan dan kolega atau mungkin
bawahannya yang tidak percaya bahwa dia adalah pelaku pelecehan seksual yang
kejam. Endingnya, pejuang untuk keadilan pada anak yang cacat itu.
Nyesek.
Waktu
pertama nonton, saking kesalnya saya sampai mencari tahu lebih dalam mengenai
film ini. Kalau gak salah waktu itu saya masih duduk di bangku S1 pas film ini
diputar. Ternyata, film ini dibuat dengan tujuan mengambil simpati lebih banyak
orang pada ketidakadilan yang terjadi karena hukum yang berat sebelah. Setelah
film ini dibuat dan terkuaklah betapa beberapa oknum di pengadilan menganggap
remeh permasalahan serius seperti ini. Berkat diangkat ke layar lebar juga, dan
diperankan dengan apik oleh ahjusii tampan Gong Yoo, masyarakat kemudian
mendesak kasus ini dibuka kembali. Atas desakan itulah, pemerintah akhirnya
menutup sekolah tunarungu tersebut, dan salah satu pelaku berhasil dihukum
berat. Hukum ternyata ditegakkan oleh gerakkan massa, bukan kebenaran dan
keadilan
Pelecehan seksual bukan
hanya masalah hukum, tapi juga moral dari manusia. Jika bersama-sama
membiarkan, maka apa bedanya kita dengan pelaku? Setidaknya itu salah satu
pesan yang kudapat dari film ini. Beberapa manusia egois yang justru
mengganggap biasa saja apa yang terjadi pada ketiga anak malang tersebut. Apalagi
ketiganya adalah orang miskin dan yatim piatu. Who’s care? Dibandingkan dengan apa
yang akan mereka dapatkan dari orang terpandang, tak pentinglah betapa hancur
dan sakitnya ketiga anak tersebut. Tak ada yang peduli bagaimana kelak mereka
tumbuh dewasa dengan perlakukan tidak adil pada mereka.
Plus, label “baik” pada
orang-orang yang terampil memakai topeng. Dermawan dan baik pada siapa saja
tidak serta merta membuat kita tertipu. Kadang, kita tertipu karena kita hanya
menilai orang dari luar. Rasanya tak mungkin orang sebaik beliau bisa melakukan
hal menjijikan seperti itu. Apalagi selama ini dia baik, dia ini, dia itu.
Yup,, sifat manusia yang selalu menilai sesuatu dari penampilan luar hanya akan
menimbulkan kesesatan. Selagi kita belum tahu seseorang seperti apa, makanya
jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kenyataannya, salah satu pelaku yang
rajin beribadah dan menyumbang ke rumah ibadah itu adalah orang yang korup dan
memiliki kelainan seksual. Berkat keterampilannya memakai “topeng “baik”,
banyak orang yang kemudian menganggap “tak mungkin” dia menjadi pelaku.
Semengerikan itulah
manusia.
Sehabis menamatkan
lagi, saya jadi banyak berpikir. Bahwa memang ada orang-orang yang demikian. Merasa
malaikat padahal sebenarnya adalah iblis. Merasa yang dilakukannya benar,
padahal semuanya salah besar. Merasa sebagai korban, padahal adalah pelaku.
Semua bisa terjadi jika tak ada perasaan takut akan balasan dari-Nya. Jika tak
ada Tuhan di hati kita :(
Selesai, dan belum dapat idea :D
Tasangkapura, Papua

Comments