Mengapa Kau Menangis Lagi Hari Ini?
Karena foto di atas. Foto yang
kuambil dari kabin pesawat pertengahan Januari tahun ini. Ada Mama, Pakde,
Bude, Alm. Mamabia, Om, Tante, dan Raffi. Foto yang kupotret sambil menahan
isak tangis karena harus kembali ke Jayapura, sendirian, kesepian lagi.
Satu-satu nya foto yang kuambil karena permintaan Alm. Mamabia.
“Lambaikan tanganmu, Ci. Kamu duduk
di dekat jendela kan?” pesan whatsapp Alm. Mamabia masuk.
Aku pun melambaikan tangan. Padahal
aku tidak tahu mereka bisa lihat atau tidak.
“Kenapa belum pergi?” tanyaku.
“Rafi tunggu pesawatmu pergi dulu.”
balasnya. Aku pun semakin tak bisa mengendalikan perasaanku. Sedih sekali harus
berpisah lagi. Harus merantau lagi. Dan kesepian lagi di tanah rantau :(
Dan mereka benar-benar tak beranjak
sampai pesawatku lepas landas. Mengudara di angkasa bersama kesunyian. Kembali
bersama kerinduan.
Aku tak mengabadikan foto bersama yang
lebih jelas di ponselku. Waktu itu aku takut sekali mati. Haha! Aku salah satu
orang yang phobia naik pesawat. Setiap akan naik pesawat hatiku tak tenang. Ingatanku
selalu kembali pada salah satu adegan di film Armageddon.
“Kau tahu berapa kemungkinan
pesawat untuk jatuh karena turbulensi? 1:1.000.000 penerbangan!”
Kemungkinan yang kecil tapi tetap
membuatku gemetar tiap turbulensi. Bayang-bayang pesawat akan jatuh terus
membuatku tidak tenang saat akan terbang. Itulah mengapa aku tak mau
mengabadikan moment-moment terakhir saat akan lepas landas. Aku khawatir kalau
itu benar-benar menjadi “moment terakhir”. Apalagi waktu itu aku merasa Allah
akan menghukumku karena telah melakukan kesalahan besar. Kaki yang terkilir
saat akan turun tangga sudah cukup menjadi pertanda, bahwa aku harus memohon
ampun atas kesalahan besarku pada Allah. Jika kaki terkilir saja bisa dibuat-Nya,
apalagi dengan menghempaskan pesawat yang kutumpangi. Aku takut sekali. Karena
merasa masih punya banyak dosa.
Ternyata aku salah. Mengabadikan
moment itu memang penting. Karena bisa jadi itu saat terakhir bertemu dengan
orang yang kau sayang. Ya, hari itu, di hari kepergianku kembali ke Jayapura
adalah saat terakhirku bertemu dengan Alm. Mamabia. Yang membuatku kembali
meneteskan air mata saat melihat foto itu. Satu-satunya foto yang kuabadikan di
saat terakhir pertemuan kami.
Malam
sebelum keberangkatan.
Mamabia datang membawa oleh-oleh
untukku. Ada ikan goreng, ada kue kering. Tangannya yang cekatan membantuku
membungkus semua oleh-oleh darinya, dari bude, dari mama.
“Jadi lama lagi kamu pulang? Rindu
lagi kita.” Katanya.
“Lebaran nanti pulang, kok.” Kataku.
“Oh begitu. Tidak lama berarti.”
Dan semua hanya menjadi rencana.
Karena rencana Allah pasti selalu lebih baik. Pandemi Corona membuat semuanya
tak bisa pulang kampung. Dan Allah memanggil beliau untuk selama-lamanya
setelah lebaran tahun ini.
Dan saat kulihat lagi foto itu. Air
mataku tak bisa kubendung. Aku ingin pulang.
Al Fatihah untuk Bibi :)
Rindu sekali padanya, dan semuanya
Tasangkapura
23 Juli 2020

Comments