Waktu Yang Menyembuhkan
“Jangan iri dengan kebahagiaan orang lain. Kamu tidak pernah tau apa yang sudah Tuhan ambil dari mereka”.
| source : quora.id |
Setiap manusia punya masalahnya
masing-masing, ujiannya masing-masing, sesuai porsinya masing-masing. Lalu,
setiap manusia diberkati dengan akal untuk membuat pilihan. Pilihan mau terus
berkabung dalam duka atau bangkit. Seperti kata Mark Manson dalam bukunya, “Seringkali satu-satunya perbedaan apakah
suatu masalah terasa menyakitkan atau menguatkan adalah pilihan yang kita buat, dan bahwa kita memiliki tanggung jawab
terhadapnya.”
Dan aku menyadarinya di usia 28
tahun. Setelah sekian lama hidup, aku baru sadar kalau apa yang dikatakan Mark
Manson itu benar. Meskipun kita tidak berbuat salah, kita tetap bertanggung
jawab di dalam masalah yang menimpa kita. Bentuk tanggung jawab itu adalah
pilihan yang kita buat sebagai respon dari adanya masalah. Mau terus-terusan
nangis, atau usap air matamu, bangkit dan tersenyum. Ini hanya sebagian kisah
dari perjalanan panjang hidupmu.
Seperti kisah Mark di bawah ini:
Pacar saya yang
pertama mencampakkan saya dengan cara yang spektakuler. Dia berselingkuh dengan
gurunya. Itu luar biasa. Dan, yang saya maksud dengan ‘luar biasa’, persisnya
seperti dipukul sebanyak 253 kali di perut. Lebih apes lagi, ketika saya
meminta penjelasan padanya tentang hal ini, dia justru meminta putus, dan
langsung ‘nempel’ ke pelukannya. Tiga tahun bersama, hanya berakhir seperti
ini.
Saya nelangsa
selama beberapa bulan sesudahnya. Sudah saya duga sebelumnya. Tetapi saya juga
berpikir dialah yang bertanggung jawab atas kepedihan saya. Dengan begitu, ini
justru tidak membuat saya bisa melangkah ke depan. Itu hanya membuat rasa pedih
semakin parah.
Lihat, saya tidak
bisa mengendalikan dia. Tidak peduli berapa kali saya memanggil-manggilnya,
atau meneriakkan namanya, atau memohon agar dia mau kembali ke pelukan saya,
atau membuat kunjungan kejutan ke tempatnya, atau hal-hal mengerikan dan
irasional lain yang biasa dilakukan seorang mantan. Saya tidak akan pernah bisa
mengendalikan emosi atau tindakannya. Pada akhirnya, meskipun dia yang patut disalahkan atas apa yang
saya rasakan, dia tidak pernah bertanggung jawab atas apa yang saya rasakan. Sayalah yang
harus bertanggung jawab.
Pada suatu titik,
setelah aliran air mata dan alkohol dirasa telah cukup, saya mulai berpikir dan
memahami bahwa meskipun dia telah melakukan sesuatu yang buruk kepada saya dan
dia layak disalahkan, sekarang tanggung jawab sayalah untuk membuat diri saya
kembali gembira. Dia tidak akan pernah muncul dan memperbaiki segala hal yang
terjadi pada saya. Saya harus memperbaikinya sendiri.
Banyak orang yang mungkin disalahkan atas
ketidakbahagiaan anda, namun tidak seorang pun yang bertanggung jawab atas
ketidakbahagiaan anda selain anda sendiri. Ini karena anda selalu harus memilih
bagaimana anda memandang sekitar anda, bagaimana anda berekasi terhadapnya,
bagaimana anda menilai sesuatu. Anda selalu harus memilih ukuran yang Anda
gunakan untuk menilai pengalaman Anda.
Mungkin telat bagiku untuk menyadari bahwa aku yang
bertanggung jawab sepenuhnya pada kebahagiaanku. Bukan orang lain. Bolehlah ada
orang-orang yang menjadi alasan mengapa kita menangis, namun setelah itu kita
adalah alasan mengapa kita harus bahagia.
Acceptance.
Pelajaran berharga yang sebenarnya pernah kudapatkan
tanpa aku sadari.
Aku pernah patah kaki karena sebuah kecelakaan
tunggal. Saat semua orang terkejut melihat kondisiku, aku tersenyum lebar dan
berkata “tidak apa-apa”. Tapi aku bohong. Setelah teman-temanku pulang, aku
menangis dalam diam di kamar rumah sakit yang gelap. Sedih sekali. Sesenggukan
menahan isak tangis yang pecah. Apa yang harus aku lakukan?? Banyak yang aku
pikirkan, operasiku, duitnya dari mana, orang tuaku jauh, aku masih mau kuliah,
dan lain sebagai-nya. Apalagi pas mama bilang kepadaku untuk pulang saja dulu,
S2 nya nanti saja. Aku semakin galau.
Lalu apa yang aku lakukan berikutnya adalah membuat
pilihan. Sulit sekali. Memutuskan untuk melupakan impianku atau terus
melanjutkan impianku. Melupakan impianku artinya aku akan pulang ke kampung,
menjalani hari-hariku dengan keadaan difabel, menunggu sampai aku bisa jalan
dengan kedua kakiku lagi, baru memikirkan akan menjadi apa. Atau aku harus
melanjutkan impianku, kuliah di tempat yang jauh dari perhatian orang tua,
sendirian dalam keadaan difabel.
Tapi ada temanku yang bilang gini,”Lanjutkan aja
kuliah, toh nanti sembuh juga, kamu bisa jalan lagi.”
Waktu yang akan menyembuhkan
luka. Segala luka.
Pelan-pelan kalau kita menerima semua kondisi atau
keadaan yang dikasih Allah, Allah juga akan memberikan kemudahan-kemudahan
disana. Karena akhirnya aku membenarkan perkataan temanku, akhirnya aku
memutuskan menerima ketidaksempurnaanku dalam melangkah hari itu sambil
melanjutkan mimpiku. Dan setiap pilihan yang dibuat jelas tidak mudah untuk
dilaksanakan. Tapi Allah memberikan kemudahan di dalamnya, karena aku menerima rasa sakit itu. Mengirimkan
orang-orang baik yang membantuku melewati semuanya.
Kalau diingat kembali, it’s not easy for me to through that time. Tapi karena aku membuat
pilihan untuk menerima semua kejadian
itu dengan ikhlas dan ada impian yang harus aku tuntaskan, semua terlewati
juga. Aku bisa melanjutkan kuliah walaupun harus berjalan dengan bantuan
tongkat, naik ke lantai 3 setiap hari untuk kuliah. Gak mudah sih, kadang aku
masih suka nangis diam-diam karena ketidakmampuan untuk menjadi produktif, atau
karena aku merasa lelah menggunakan tongkat, atau karena aku merasa ‘aneh’
sendiri di kampus, atau karena aku merasa tidak enak terus merepotkan teman
mengantarkan pulang, dll. Tapi karena aku menerima
semua kondisi itu dengan hati yang lapang, pelan-pelan luka itu sembuh :)
Selama kita menerima segala kondisi yang diberikan
Tuhan, ikhlas pada ketetapannya, pelan-pelan kita belajar untuk bertanggung
jawab dalam hidup, atas pilihan-pilihan yang kita buat.
The last
Tidak suka aku tuh, overthinking dalam segala hal. Ini
pemikiranku waktu lulus s1 dulu. Kenapa aku gak bisa punya hidup kayak kakak
sepupu aku atau mungkin orang-orang lain di luar sana. Lulus kuliah, kerja,
nikah, punya anak, udah. Aku pengen banget punya hidup kayak gitu. Kayak
sempurna sekali. Tapi Allah membuatku mengalami perjalanan hidup yang enggak
biasa dan penuh pelajaran berharga di dalamnya. Aku memang bisa mengejar
mimpiku untuk studi s2, tapi aku juga harus menerima kalau aku akan melalui
awal-awal studiku dengan keadaan kaki kiri patah. Aku memang bisa mengejar
mimpiku untuk menjadi seorang dosen, tapi aku juga harus menerima kalau aku
akan menjalani awal-awal karirku dengan kesepian di kota yang katanya ‘kecil’
ini. Tapi semua duka tidak ada yang abadi. Semua luka akan sembuh pada
waktunya. Malam kan berakhir, hari kan
berganti, takdir hidup kan dijalani.
Intinya jangan membandingkan hidupmu dengan hidup
orang lain. Kita tidak pernah tau apa yang direnggut dari mereka hingga bisa
tersenyum bahagia seperti hari ini. Hidupmu pun indah dan bermakna.
Random banget nih
tulihan (curhat) di atas :D
Selamat pagi
Dari Tasangkapura,
home sweet home :)
Comments