I LOST TIME


Yang fana adalah waktu, kita abadi – Sapardi Djoko Damono

            Bekerja dari rumah memberikanku banyak waktu untuk mengecek sosial media. Sebenarnya banyak deadline kerjaan yang mesti diselesaikan, tapi karena kesepian di rumah terus sometime kuhabiskan waktuku dengan bersosial media ria. Sampai kemudian aku merasa sudah membuang waktuku suangaaaat banyak hanya untuk melihat postingan orang lain. Ya walaupun tidak semua postingan yang aku lihat itu worst, terkadang beberapa memang bagus seperti pemandangan yang indah, caption yang menarik, tulisan motivasi yang menyetuh, video yang bermakna, dan lain sebagainya. But, aku lelah.

            Beberapa saat kemudian aku mengetahui kalau ternyata salah satu sosial media seperti instagram punya fitur untuk membatasi aktivitas kita disana. Maklum, dulu sebelum WFH aku jarang sekali untuk membuka aplikasi ini. Kuputuskan untuk memasang timer pengingat jika aku telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk scrolling feed orang. Awalnya kupasang timer dua jam. Jadi selama sehari, instagram akan memberitahu aku apakah waktu yang kuhabiskan di sana lebih dari dua jam atau tidak. Hasilnya? Hanya sekali aku ditegur oleh fitur pengingat itu. Besok besok dan besoknya, fitur itu semacam tidak berfungsi yang kuasumsikan bahwa waktu yang kuhabiskan disana tidak pernah lebih dari dua jam.

            Kok aneh ya? Haha! Sebab rasanya sudah luamaaa sekali aku menatap layar ponselku. Akhirnya kuputuskan untuk menurunkan durasi jamnya menjadi 30 menit. Hasilnya? Aku kena tegur tiap hari. Meski sudah ditegur, kunilai 30 menit waktu yang kurang banyak yang membuatku mengabaikan teguran itu. Fitur membatasi waktu pun tak mempan untuk mengendalikanku bersosial media sepanjang waktu.

            Lalu aku menemukan gambar ini di Quora dan sederet cara hidup orang lain untuk mendapatkan hidup yang damai. No posting, no liking, just living.



 

            Flashback ke masa-masa sebelum aku terjerumus dalam kebiasaan membuang-buang waktu di sosmed, aku pernah meng-uninstall sosial mediaku waktu kuliah dulu. Hasilnya? Aku ‘hidup’. Aku hidup dengan melakukan hal-hal yang aku suka, bukan paksaan atau tuntunan zaman dimana kamu harus eksis di sosial media. Atau sebenarnya, hidupku sebelum masa-masa dimana kuhabiskan waktu banyak di sosial media adalah hidup yang menyenangkan. Saat aku aktif di media sosial, aku rajin menulis status, meng-update story yang sebenarnya enggak penting dengan tujuan pengen dilihat orang lain apa yang sedang aku lakukan. Kenapa aku lakukan itu? Karena aku lagi sedih! Jadi aku setuju kalau ada yang bilang apa yang diposting orang lain di media sosial hanya versi terbaik dari mereka. Sisi sedih, sisi hancur, sisi buruk, dan semua yang negatif disembunyikan. Begitupun aku, mencoba menampilkan suatu sisi yang bukan aku di media sosial. (meski kemarin lebih banyak postingan galau sih). Maka dari itu, mengapa aku harus membuang waktu untuk melihat postingan ‘palsu’? atau mengapa juga aku harus menghabiskan banyak waktu disana?

            Finally. Setelah menemukan kembali diriku yang dulu (meskipun sekarang dengan status yang berbeda), kuputuskan untuk meng-uninstal media sosial di ponselku, terutama intagram. Menyisakan twitter yang emang dari dulu platform paling nyaman untukku dan whatsapp (yang kublokir notifikasinya). Oh, dan Quora, medsos yang baru aku tau ternyata banyak informasi bagusnya. Semoga aku istiqomah untuk enggak buang-buang waktu lagi.

            Bicara tentang buang-buang waktu. Sebenarnya banyak juga hal yang membuang-buang waktu yang tanpa aku sadari telah aku lakukan. Yang terparah mungkin bucin ke orang yang brengsek (wkwk). Sayang hal itu enggak seperti media sosial yang dibuang terus udah. Gak efek apa-apa. Kalau ini yang ini meskipun udah dibuang tetap membekas. Lukanya XD. Penyesalannya sama sih. Kalau buang-buang waktu di media sosial kita jadi enggak bisa melakukan banyak hal yang lebih bermanfaat seperti tepat waktu menginput nilai mahasiswa (wkwk), kalau buang-buang waktu bucin ke orang yang brengsek buat kamu jadi kehilangan waktu untuk mengenali diri sendiri, menyadari kekeliruanmu, memperbaiki diri, dan mungkin ditemukan yang lebih pantas (eaaa). Well, pokoknya semua jadi sia-sia. Haha!

Tapi, seperti lirik lagu Opick:

Andai bisa ku mengulang waktu hilang dan terbuang

Tapi waktu tak berhenti

Tapi detik tak kembali

Seperti lirik puisi Sapardi Djoko Damono pun,

Yang fana (tidak kekal) adalah waktu

            Karena waktu tak bisa kembali. Penyesalan tak berguna lagi. Maka, hanya pelajaran yang kemudian dipetik. Jangan membuang-buang waktu lagi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat untuk hidupmu. Bukankah hidup cuma sekali?

            Terakhir.

            Sebenarnya lagu Opick itu ditujukan untuk manusia yang masih banyak berbuat dosa (kayak aku) yang kemudian menyesal karena waktu yang ada tidak digunakan sebanyak-banyaknya untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Ketika teguran itu datang, hanya penyesalan yang tersisa. Dan tiada hal yang lain yang bisa dilakukan selain memohon pengampunan.

            Maka ampunkan hamba-Mu ini.

            Setidaknya, dibalik teguran yang datang ada kesadaran untuk memohon ampun.

 

Malam di awal agustus :)

Dan ditengah euforia gaji 13 XD

           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y