P A N D E M I
*meskipun judulnya pandemi dan gambarnya tentang Black Death, tapi tulisan ini delapan puluh persen adalah tentang curahan pemikiran :D
Pandemi, yang dulunya hanya kupelajari dari sejarah epidemiologi, lihat di film yang diputarkan dosen saat mata kuliah wabah (judulnya contagion) atau kuhafal banget artinya, sekarang menjadi nyata. Pandemi yang tengah dialami dunia memaksa penduduk bumi untuk hidup berbeda dari biasanya. Diiringi dengan lelah dan air mata. Namun, semuanya masih berjuang sampai saat ini.
Ngomong-ngomong tentang pandemi, bagiku, ada yang lebih buruk dari pandemi untukku, (kata-kata ini terinspirasi dari cerpen anyar Raditya Dika), yaitu *Teettt*. Aku tak mampu menuliskannya. Hal buruk yang menimpaku di tengah pandemi ini cukup mengguncang psikologisku yang sebelumnya sudah mulai bosan #dirumahaja. Bahkan, aku pernah mencoba untuk melukai diri sendiri lantaran tak sanggup menahannya lagi. Sungguh, tak pernah aku sangka kalau aku akan mengalami sebuah hal buruk di pandemi.
Syukurnya, Allah tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia. Saat ter-down itu, Allah mengirimkan banyak bantuan yang sangat sangat sangat aku syukuri. Selain membantuku untuk tidak hilang akal, juga membantu untuk segera menyadari kekeliruan.
Pertama, teman-teman yang cepat tanggap untuk memberikan penghiburan. Misalnya si F yang langsung berinisitif datang ke rumah lengkap dengan sop ayam-nya. Yang di luar dugaan adalah si P yang juga ingin ikutan datang dengan es cincau-nya, meskipun saat itu dia belum tahu mengapa kami berkumpul. Mungkin Tuhan yang menggerakkan mereka untuk menemaniku yang sedang terpuruk. Jadilah kami berbuka puasa bersama dan bertemu lagi setelah pandemi memaksa kami untuk ‘menjaga jarak’. Juga si M yang beberapa hari kemudian ikutan datang. Serta, kata-kata yang cukup keras untuk menyadarkanku untuk menerima kenyataan meskipun puahit, yang sudah dilontarkan sahabat nun jauh disana dan si P. Terima kasih gaes!
Kedua, pantai. Aku sangat menyukai pantai. Dan setelah hampir dua bulan tidak keluar rumah karena pandemi, tempat pertama yang kutuju adalah pantai. Bau air asin, bau laut, sangat sangat membantu. Terima kasih untukmu!
Ketiga, uang. Hahah. Apa? Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, menurutku. Setelah hari naas itu, aku mendapatkan honor (lupa honor apa) yang akhirnya kugunakan untuk shopping. Hah? Iya, kupikir dengan membeli sesuatu yang aku sukai mungkin dapat memulihkan rasa tidak nyaman itu. Akhirnya, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi bisa membeli barang-barang untuk menipu hati sementara. Ehee
.
Tapi, tetapi, meskipun hal buruk itu akhirnya pelan-pelan dilalui. Aku menyadari bahwa ada satu hal lagi yang buruk di pandemi ini.
Sendirian!
Aku nggak apa-apa jika harus karantina, harus kerja dari rumah, atau menjaga jarak dari orang-orang selama beberapa waktu. Aku benar-benar tak masalah. Yang penting tidak sendirian. Benar kan? Sungguh tidak nyaman ketika harus 24/7 tidak melihat manusia (untungnya aku tidak mulai melihat makhluk2 gaib juga. Wkwk). Dan tidak nyaman sekali ketika tidak berbicara dengan manusia (Dan untung juga aku belum mulai berbicara dengan makhluk gaib).
Ya, yang terburuk dari pandemi ini adalah harus #dirumahaja sendirian, jauh dari keluarga, gak bisa pulang kampung juga. Aku akhirnya mulai bertanya-tanya kapan semua ini berakhir?
Nampaknya masih lama. Aku akhir-akhir ini kembali mengikuti berita terkini mengenai covid19 yang saat ini kasus per hari nya berdasarkan pemeriksaan lab sudah menjadi 4000-an per hari. Dan curva yang diharapkan landai itu bahkan belum mencapai puncak. Total kasus covid sudah mencapai 257.000 kasus.
Dan alasan aku menulis tentang pandemi (yang diawali dengan curhat itu ehe) adalah karena aku baru membaca sebuah berita yang berisi kemungkinan untuk menutup provinsi ini lagi dikarenakan R0 covid19 yang meningkat lagi dari 0,8 ke 1,8. Hal ini mungkin disebabkan banyak orang yang mulai abai bahkan mungkin lupa bahwa kita masih di masa pandemi.
Sejujurnya, aku sangat ingin membantu dalam penanganan pandemi ini. Aku ingin sekali membantu mulai dari tracing contact bahkan sampai analisis data. Karena aku rindu akan masa-masa turun lapangan saat ada wabah. Berpanas-panasan, berlelah-lelahan, tapi kita para penerus Jhon Snow sangat senang melakukan hal tersebut.
Namun, meskipun tidak membantu langsung di lapangan, setidaknya aku bisa membantu dengan cara yang sangat sangat diharapkan oleh tenaga kesehatan dan semua yang sedang berjuang untuk menanggulangi pandemi ini, yaitu dengan : Pakai Masker, Jaga Jarak dan Sering Cuci Tangan!
Ya!
Karena aku tidak membantu di lapangan, setidaknya aku bisa membantu dengan selalu menerapkan protokol kesehatan.
Semoga kalian juga demikian ya! Mari bantu memudahkan memutus rantai penularan Covid19 dengan selalu Pakai Masker, Jaga Jarak kurang lebih 1 meter, dan sering cuci tangan. Bahkan bila perlu, #dirumahaja jika tidak ada aktivitas penting di luar rumah.
Sehingga pandemi ini bisa segera berakhir, dan segala hal buruk yang terjadi karena pandemi ini berkurang.
100 hari menjelang 2021


Comments