Prison PlayBook : Menyesali Perbuatan
![]() |
| Minus Jung KyungHo :( |
Nungguin jadwal mengajar yang tak kunjung keluar (alesan aja sih :P), membuatku akhirnya melanjutkan menyaksikan drama selanjutnya karya sutradara Shin WonHo setelah Reply 1988. Sebagai penggemar drama korea dari kelas empat SD (haha), harus kuakui kalau ide cerita drama korea semakin berkembang. Pesan tersirat yang ingin disampaikan di dalam drama pun semakin kreatif cara penyampaiannya.
Sebelum nonton Prison Playbook, saya sudah menonton beberapa film box office korea selatan yang mengambil penjara sebagai lokasi syuting. Ada yang menyajikan sisi humanisnya kayaknya film Miracle in Cell No 7 atau Harmony yang lucu dan inspiratif. Atau yang agak ekstrim kayak film Midnight Runner atau The Prison yang terdapat dengan adegan adu pukulan dan berdarah-darah. Jadi saya mengira Prison Playbook pasti serupa dengan film-film tersebut.
Tapi ternyata aku salah.
Sewaktu nonton The Prison, aku bahkan meng-skip adegan adu jotos ala gangsters nya yang lumayan mengerikan. Di film tersebut, gangster benaran gangster yang menggunakan kekerasan.
Salah satu hal yang bikin aku suka sama Prison Playbook adalah cara sutradara dan penulisnya membawa penonton untuk merasa tegang pada adegan-adegan dimana pemeran protagonisnya harus berhadapan dengan orang-orang yang benar-benar jahat dan kejam di penjara. Namun, ketegangan itu selalu diakhiri dengan perasaan lega karena cara penyelesaian masalah yang jauh dari kekerasan. Sutradara seperti ingin menyampaikan bahwa untuk menghadapi orang-orang yang mengedepankan otot tidak perlu dihadapi dengan otot pula, melainkan dengan otak, kecerdikan dan bahkan dengan hati. Tentu saja dibalut dengan keberanian.
Misalnya saat JeHyuk (pemeran utamanya) yang merangkul Ddollmani (orang yang sangat ingin membunuhnya) dengan menjadikan Ddollmani teman berlatih baseballnya. Aku gak nyangka sih kalau akhirnya cara untuk menyelesaikan konfliknya adalah dengan merangkul musuh menjadi teman. Atau saat JeHyuk dengan cerdik mengelabui Yeom, orang yang ingin memerasnya, dengan merekam percakapan mereka. Aku degdegan banget nontonnya karena takut ada adegan berdarah-darah disini, nyatanya nyaris tidak ada yang parah sekali. Malahan aku malah ternganga karena penyelesaian konfliknya yang soft tapi daebak. Dan masih banyak lagi yang lebih baik jika kalian tertarik silahkan menonton drama-Nya.
Setelah sampai di pertengahan drama, aku sempat mikir, kenapa sih sipir penjara ini baik banget sama narapidana. Ya meskipun kebaikan mereka tidak ditunjukkan langsung melainkan melalui perhatian-perhatian tersembunyi. Misalnya saat Letnan Paeng menolak tegas saat seorang narapidana memintanya untuk mengubungi keluarganya yang tak pernah menjenguk. Setiap kali narapidana ini memohon, Letnan Paeng selalu marah dan menolak dengan berdalih dia bukan pesuruh narapidana (ya emang bener), eh diam-diam ternyata dia sudah menghubungi keluarga narapidana itu dan dijawab dengan penolakan. Karena tidak enak hati untuk menyampaikan kenyataan, Letnan Paeng terus pura-pura marah dan menolak.
Sampai di akhir episode, Letnan Paeng menjelaskan bahwa tugas mereka sebagai sipir adalah untuk membantu narapidana menyesali perbuatan keliru mereka.
Ada beberapa adegan khusus yang menarik perhatianku disini.
Pertama, saat JeHyuk menasehati Kapten Yoo Jung Woo. Jadi, Kapten Yoo ini adalah tentara yang dituduh melakukan kekerasan fisik pada bawahannya hingga meninggal dunia. Dia difitnah disini. Karena marah banget masuk penjara, jadi dia merasa aneh melihat teman satu sel nya yang tampak menikmati tinggal di penjara. Akhirnya pada suatu moment dia menyinggung JeHyuk dan dijawab JeHyuk dengan kurang lebih demikian.
“Aku juga marah dan frustasi seperti kamu. Aku merasa dunia ini tidak adil. Tapi, aku harus hidup. Mau sampai kapan kamu terus marah dan merajuk?” Dan untuk bertahan hidup itu adalah dengan menerima keadaan.
JeHyuk adalah atlet baseball terkenal. Dia masuk penjara karena memukul orang yang melakukan pelecehan seksual pada adik perempuannya. Pelaku pelecehan itu mengalami koma hingga meninggal dunia. Bagi JeHyuk tentu saja tidak adil, namun tindakannya tetap salah dimata hukum.
Dan, teman-teman satu sel Kapten Yoo juga berusaha menerima keadaan mereka, menyesali perbuatan mereka, dan melanjutkan hidup. Hingga akhirnya, Kapten Yoo tersentuh oleh perkataan JeHyuk dan pelan-pelan menerima nasibnya. Yang tidak dia ketahui adalah orang-orang tersayangnya di luar penjara terus berusaha agar dia bisa mengajukan banding dan fitnah terhadapnya terhapuskan.
Kedua, Han Yang si pecandu. Aku mau mengutip salah satu kutipan dari sebuah film. Kurang lebih seperti ini,
“Perbedaan antara sekali dan tidak pernah adalah segalanya” (the difference between once and never is a whole world).
Yup, aku setuju sekali kutipan tersebut. Ada hal-hal di dunia ini yang ketika kita tidak pernah melakukannya itu jauh lebih baik daripada pernah sekali melakukan. Khususnya untuk hal-hal yang tidak terpuji, misalnya selingkuh (wkwk, soalnya kutipan itu diambil dari film tentang perselingkuhan haha).
Dan, karakter Han Yang di drama ini juga mencerminkan kutipan tersebut. Han Yang adalah pencandu, ditangkap karena mengkonsumi narkoba. Saat di dalam penjara, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengkonsumsi narkoba lagi. Ia bahkan mengalami gejala putus obat dan berjuang melawan keinginannya untuk mengkonsumsi obat-obatan lagi.
Sayangnya, sungguh sangat disayangkan, belum sejam setelah ia bebas, ia tak bisa menahan godaan untuk mengkonsumsi obat-obatan lagi. Miris sih. tapi benar kan, sekali mencoba akan sulit untuk mengendalikan diri. Maka perbedaan tidak pernah dan sekali adalah segalanya.
Di drama ini, sutradara ingin menyampaikan bahwa menggunakan narkoba itu buruk. Karena kita akan sulit untuk berhenti. Selain adegan Han Yang yan terjerumus lagi, sepanjang drama juga ada kalimat-kalimat seperti narapidana pecandu adalah yang terburuk. Karena mereka akan terus masuk penjara. Why? They can’t control them self. Sekali mencoba tak bisa lepas.
Terakhir, drama ini ringan namun penuh dengan pesan moral dan juga mengangkat real kehidupan di penjara. Bahwa ada orang yang dipenjara karena melakukan kejahatan dan mereka tetap jahat (sulit berubah), ada juga orang yang dipenjara karena melakukan kejahatan dan berhasil menyesali perbuatannya, dan ada juga yang dipenjara padahal mereka tidak berbuat salah (buah dari hukum tumpul pada yang ber-uang wkwk).
Banyak juga yang bilang bahwa drama ini mengangkat tema “Don’t Judge by the cover”, ya karena karakter2 utama adalah orang-orang yang sebenarnya baik cuma lagi apes aja. Namun menurutku (yang juga beberapa kali ditekankan dalam drama) orang yang dipenjara tetaplah orang jahat, yang akan membedakan mereka nantinya hanyalah mereka menyesali perbuatannya atau tidak.
Meskipun banyak pesan moral, drama ini dibalut sama banyak adegan kocak yang relate sama selera humorku. (plus aktornya bikin cuci mata wkwk). Sehingga aku kasih 9/10 untuk drama ini.
Sekian.
Ditulis dengan feel boring banget
karena pandemi melarangmu kemane2


Comments