Aerophobia

Sumber : Google.com


Bepergian dengan menumpang pesawat terbang adalah hal yang menyenangkan. Banyak orang lebih memilih pesawat terbang jika harus bepergian keluar kota. Transportasi udara juga disebut sebagai transportasi paling aman di dunia. Namun, bagiku tidak demikian. Aku tidak terlalu senang bepergian dengan menumpang pesawat, dan jujur aku masih takut berada di dalam pesawat yang sedang terbang.

Jika sebagian orang sebelum keberangkatan sangat bahagia atau mungkin biasa saja, maka aku adalah sebaliknya. Kekhawatiran selalu menghantuiku sebelum terbang. Bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum aku membeli tiket pesawat. Untungnya, aku tidak mendapatkan pekerjaan yang memaksaku untuk bepergian dari satu kota ke kota lainnya dalam seminggu atau sebulan. Bepergian dengan pesawat terbang yang jarang, memberikanku lebih banyak waktu untuk khawatir sebenarnya. Khawatir memilih hari keberangkatan, khawatir kalau hujan pas hari keberangkatan, dll.

Akhir-akhir ini, ketakutan itu semakin tidak wajar. Karena pandemi yang melanda seluruh dunia, industri penerbangan juga termasuk dalam imbas dari pandemi. Selama beberapa bulan nyaris tak ada penerbangan komersil, bandara sunyi senyap. Baru setelah penerapan new normal, aktivitas dimulai, dunia penerbanganpun mulai “agak” sibuk. Aku, yang selalu khawatir akan terbang, mulai berpikiran macam-macam.

“Gimana kalau selama pandemi pesawatnya gak dimaintance dengan baik, trus ada kesalahan mesin, dll?

Pemikiran semacam itu kemudian membuatku ‘takut’ untuk terbang. Tapi... aku ingin pulang ke kampung halamanku. Dan untuk bisa sampai di kampung halaman dari tempat kerjaku saat ini membutuhkan transportasi laut atau udara. Pulang menggunakan kapal jelas bukan pilihan yang baik—menurutku—terutama di masa pandemi seperti ini. Maka, satu-satunya cara adalah harus menumpang pesawat. Dan itu menjadi masalah besar untukku akhir-akhir ini. Apalagi akhir tahun adalah musim hujan. Butuh waktu yang agak lama sampai kemudian aku merasa harus pulang meskipun takut naik pesawat. Apalagi, saat memikirkan tanggal kepulangan, tiba-tiba aku diminta untuk menghadiri seminar di Bali. Aku yang berusaha untuk menolak itu karena aku belum final dalam pemikiran ‘yuk berani naik pesawat’. Eh, malah disuruh pergi sesegara mungkin ke Bali. Mau gak mau aku memberanikan diri. Dari Papua ke Bali aku dibelikan tiket yang harus dua kali transit. Plus, cuaca tidak sedang bagus meskipun tidak buruk juga. Saat akan kembali ke Papua saja pesawat yang ditumpangi harus bergoyang cukup keras karena menabrak awan-awan mendung. Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Hingga, aku pikir-pikir lagi untuk pulang kampung begitu tiba dengan selama di Papua. Rindulah yang memaksaku untuk berani pulang. Akhirnya, 4 hari sebelum 1 Januari aku memutuskan untuk pulang kampung.

Ada beberapa cara yang aku lakukan untuk meredam rasa takut terbang. Yang paling utama adalah mengecek prediksi cuaca. Jadi, sebelum membeli tiket pesawat, usahakan untuk melihat prediksi cuaca pada hari keberangkatan. Well, meskipun cuaca kadang berubah maka kutambah dengan doa yang tulus kepada-Nya agar cuaca cerah yang kulihat di aplikasi prediksi cuaca adalah benar-benar cerah sampai aku tiba di tempat tujuan.

Yang kedua adalah membaca artikel yang menenangkan, seperti “tak perlu takut naik pesawat saat hujan’. Dari beberapa artikel yang aku baca, cuaca hujan, petir, bahkan salju, tidak akan membuat pesawat yang kita tumpangi rusak. Hal ini disebabkan oleh teknologi canggih pesawat terbang yang dirancang untuk tahan terhadap hujan, petir dan salju. Lalu, jika dalam cuaca hujan pesawat kita tetap terbang, berarti memang cuaca saat itu tidak akan mempengaruhi pesawat kita yang sedang terbang. Pilot dan pekerja di menara kontrol sudah memprediksikan cuaca seperti apa yang layak untuk terbang dan tidak. Jadi tidak perlu berpikiran macam-macam.

Well, cuaca cerah akhirnya menemani perjalananku. Meskipun pada saat landing, pesawat terpaksa melewati awan-awan yang ‘cukup’ membuat pesawat yang kutumpangi bergoyang-goyang cukup keras. Aku akhirnya menggunakan tangan dan kakiku untuk berpengangan sembari menutup mata. Entah apa yang dipikirkan bapak-bapak yang duduk disampingku saat melihatku begitu ketakutan.

But, yeah. Aku adalah satu dari 20% orang di dunia ini yang takut naik pesawat terbang.

Semoga kita selalu dilindungi dalam setiap perjalanan kita. Aamiin....

 

Jl. Dua Lima

Ditulis saat sedang isolasi mandiri :D

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y