Anak Rantau
Suka Duka Anak Rantau
Minjem judul novel Ahmad Fuadi ya. Novel yang waktu rilisnya kebetulan aku ada di Jakarta dan bisa ketemu penulisnya langsung, dapat tanda tangan langsung, plus kalimat motivasi yang entah mengapa relate banget sama aku yang lagi butuh jawaban saat itu. Bisa dibaca disini. Eheh
Berbicara mengenai rantau, aku adalah anak perempuan yang cukup berani. Kata Bapak aku berani banget tinggal sendirian, padahal aku bukan anak pertama. Mandiri yang kubentuk karena waktu itu aku bosan banget sama Jayapura. Dan, aku ingin bebas mengatur hidupku sendiri, serta meyakinkan orang tua kalau aku bukan anak yang manja. Aku gak tau mewarisi sifat siapa sampai aku hidup dengan penuh cita-cita yang ingin terus kugapai. Maka, sewaktu lulus SMA aku bertekad untuk kuliah di luar Jayapura. Alhamdulillah, Allah memeluk doaku dan membawaku ke universitas Si Jago Merah yang semakin memperkuat mimpi-mimpiku untuk menjadi yang tidak biasa. Tak puas, aku merasa belum selesai dengan hidupku. Masih ada mimpi dan keinginan yang belum kucapai. Kubawa saja dalam doa dan Allah lagi-lagi memeluk doaku. Di bawanya aku ke kampus Gadjah Mada, kampus impianku sejak zaman putih abu-abu.
Selama tujuh tahun, hidup mandiri, Bapak selalu bilang aku anak yang mandiri. Bapak tak tau saja betapa sulitnya untuk hidup sendiri itu bagiku. Apalagi aku perempuan. Tapi aku bertahan demi mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang kutuliskan di dinding kamar kos kecilku di Makassar yang satu per satu terkabul.
Hingga aku merasa sudah siap untuk terjun ke dunia kerja, aku kembali ke Jayapura. Kota tempatku dibesarkan. Tempatku tumbuh dan punya impian untuk diraih.
Yang tak pernah kubayangkan adalah, kota tempatku dibesarkan kini berubah menjadi tempat rantau yang baru. Orangtuaku pensiun dan memilih pulang kampung. Meninggalkan aku sendirian dan impian menjadi seorang pengajar.
Hingga aku akhirnya merasakan, saat ini, betapa tidak enaknya merantau itu. Aku yang sudah terbiasa merantau kemudian menjadi homesick sekali. Rindu.
Ada beberapa hal yang membuatku menjadi tidak menyukai merantau lagi.
Pertama, aku ingin pulang dengan mengucapkan salam. Setiap pulang kerja, dengan kelelahan karena jarak rumah dan tempat kerja dan jauh, aku ingin sekali disambut oleh manusia. Nyatanya, bukan disambut sama hantu juga sih, tapi kesunyian. Rumah kecil yang menjadi saksi tempatku berkembang, kini menjadi begitu besar. Ruangannya kosong, lengang, dan hanya diisi oleh kehampaan. Aku pun merasakan kebiasaan yang berubah. Karena sendirian, aku yang kelelahan bisa jatuh tertidur sampai adzan berkumandang. Tak ada orang, tak ada suara, yang membuatku terlelap sampai lupa waktu.
Kedua, kalau ada apa-apa aku tak tau harus bersandar ke siapa. Masih teringat jelas di ingatan kerusuhan agustus dua ribu sembilan belas. Kerusuhan yang membuat Jayapura sunyi senyap selama beberapa hari. Aku, yang sejak orang tuaku pulang kampung dititpkan ke tetangga, pun, mengungsi selama beberapa hari. Hanya berbekal berkas-berkas penting dan laptop, kami berjaga setiap malam. Entah untuk apa. Kengerian yang dibaca di media sosial sudah cukup membuat kita takut keluar rumah. Saat itulah, malam-malam ku dipenuhi dengan rindu. Apakah aku menyesal karena telah memilih jalan ini? Mungkin, jika suasana mencekam itu kulalui dengan masih adanya orangtuaku disana, aku tidak akan setakut saat itu.
Ketiga, Jayapura berbenah dari luka tahun lalu. Tapi belum selesai, pandemi menerpa. Membuat kita sekali lagi harus tinggal di dalam rumah saja. Kali ini, jauh lebih lama dibandingkan saat kerusuhan tahun lalu. Aku, sebenarnya sudah hampir gila, rasanya tak sanggup untuk bangun dari tempat tidur. Untungnya, aku belum berbicara dengan makhluk-makhluk tak kasat mata saking alone everyday nya. Dan disaat itulah, aku semakin menyadari kalau merantau itu enggak enak lagi. Enggak se-happy dulu saat aku masih remaja.
Akhirnya, aku memilih pulang kampung saat libur. Padahal, sejak adekku menikah duluan dulu, aku enggaaaan sekali untuk pulang kampung. Entah mengapa. Namun, cobaan hidup kemudian menyadarkan aku, bahwa meskipun keluarga bisa menyebabkan luka hati, tapi hanya keluarga lah tempat kita kembali.
Persis seperti dalam drama di bawah ini.
Namun sebenarnya,
Yang kemudian membuatku berdamai dengan diri sendiri, menerima kenyataan pahitnya hidup. Gak pahit-pahit amat sih, karena kalau dilihat lebih dalam, too much kasih sayang Allah sama kita. Iye kan?
Dan, endingnya adalah kenapa aku nulis tentang ini karena anak rantau ini enggan balik ke Jayapura di masa pandemi. Bayang-bayang harus alone karena kerja dari rumah di Jayapura sudah cukup menyiksa.
Semoga, doakan ya, diberi jalan keluar dan hati yang kuat untuk berani merantau lagi. Yah, mungkin merantau di usia gini bisa enak dan happy kayak masa remaja dulu kalau sudah ada pasangan. Eaaa..
Pemanis :p
![]() |
| we just an ordinary human |
Besok februari gaes!









Comments