Satu Rabu di Januari

You know life is not only about happiness, but there are sadness, difficulties, and other unpleasant things. Through it all together..
 

Lama tak bersua. Sehabis beres-beres rumah, masak, dan menyelesaikan segala pekerjaan rumah (yang biasanya jarang kulakukan), akhirnya punya waktu untuk duduk cantik di depan laptop. Lagi lagi depan laptop. Tak bosan apa? Kalau kata pak Lebah sih gitu. Bosen dia lihat aku depan laptop terus. Haha

Oke, terlalu jauh dari topik…

“Akhirnya” adalah ungkapan kelegaan yang biasanya tertuju pada hal yang bisa didapatkan setelah menanti sekian lama. Namun, “akhirnya” yang semestinya adalah sebuah akhir nyatanya adalah sebuah awal. A new start dalam fase-fase kehidupan manusia.

Before Akad

Menikah bagiku adalah sebuah fase dalam kehidupan normal. Yang cepat lambatnya tergantung pada takdir-Nya. Seperti aku yang lama dalam mendapatkan pekerjaan, aku belajar memaklumi lamanya Tuhan memimbingku untuk memantapkan hati melangkah pada fase kehidupan selanjutnya. Well yeah meskipun semua itu tidak mudah. Dilewati dengan ada kegusaran akan pertanyaan-pertanyaan, apakah Tuhan menciptakan aku sendirian tanpa pasangan di dunia ini? Apakah aku mampu amanah dalam berperan sebagai istri dari seseorang? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hehehe

Hingga pada suatu kejadian yang menurutku adalah sebuah trigger yang membuat aku berani untuk mengambil keputusan, semua itu terjadi. Hampir seluruh keluargaku terkejut pada diriku yang tiba-tiba ingin menikah. Sambutan perasaan bahagia atas persetujuan mereka sedikit demi sedikit mematahkan keraguan-keraguan yang pernah muncul. Doaku adalah jika semua dipermudah maka semoga itu adalah jalan Allah. Aamiiin. Semua ketakutan dan keraguanku selama ini kubawa semua dalam doa, semoga niat kami untuk beribadah dibalas-Nya dengan kemudahan-kemudahan dalam perjalanan menuju hari H, dan keberkahan dalam perjalanan kami nantinya. Wallahualam..

After Akad

Persiapan dalam pelaksanaan Akad Nikah kami cukup singkat. Kurang dari satu bulan. Lamaran dilakukan 5 hari sebelum akad nikah. Aku yang mempercepat semua acara itu bukan tanpa alasan. Tentunya alasan yang positif. Menurutku, semakin lama ditunda, semakin besar godaan setan untuk menggagalkan ibadah manusia. Dan, kami merasa persiapan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pernikahan sudah cukup kami miliki.

Seraya terus berdoa memohon kemudahan, akhirnya hari itu tiba juga. Suatu Rabu di bulan Januari, diiringi tangis haru orang tua dan keluarga, kami memulai sebuah fase baru dalam kehidupan kami.

Dari semua orang, kamilah yang memiliki pertanyaan terbesar kemudian setelah akad yaitu “Are we really married?“

Yup. Sampai aku menuliskan ini, kami sering tidak menyangka bahwa kami telah menikah. Rasanya tidak percaya bahwa kami telah melewati tahapan-tahapan menakutkan sebelum akad yang selalu kami pikirkan, seperti meminta restu pada keluarga, kemudahan sampai Akad, dan lainnya. Rasanya kami tidak percaya kami berdamai dan menyudahi semua drama untuk hidup bersama selama waktu yang diberikan Tuhan. Rasanya kami tidak percaya.. 

But, layaknya sebuah awal semua terasa begitu mudah, indah, dan penuh semangat. Tetap bawa dalam doa berharap kami bisa selalu kuat bersama-sama menghadapi segala hal dalam perjalanan hidup sebagai manusia 😊

 

Ditulis di dalam rumah yang sudah bertangga

26 Februari 2022

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y