Posts

Cinta Yang Tak Dirindukan

Image
Jatuh cinta pada orang yang salah. Banyak dari kita yang mengalaminya. Baik dari penilaian visual maupun lewat hati yang paling dalam. Namun, mereka tetap saja menjadi cinta yang salah. Cinta yang awalnya memberikan senang namun berakhir duka. Pedih. Sakit. Hingg kita bertanya mengapa dulu kita harus dipertemukan? Aku banyak berpikir tentang pola permintaan dan pengkabulan. Sesungguhnya Allah mengabulkan permintaan-permintaan kita di saat yang tetap. Namun banyak tak kita sadari. Saat kita meminta kekuatan, Allah langsung memberikan kita rasa percaya diri yang membuat kita merasa kuat, misalnya untuk mengerjakan tugas presentasi bagi yang demam panggung. Setelah presentase usai, kita lupa memberikan rasa syukur kita atas kekuatan dan rasa percaya diri yang telah diberikan. Kita fokus pada antuasiasme teman-teman yang tidak kita bayangkan. Kita lupa berterima kasih. Lalu saat nilai keluar dan melihat bahwa nilai kita belum sempurna, kita kembali ingat pada permintaan kita sebelumnya d...

JOGJA, semoga pilihanku untuk menghilang di sini, di restui...

Image
Rasanya ada yang aneh dengan perjalananku kali ini. Meskipun tetap di awali dengan antuasiasme dan tanpa rasa takut, tapi aku merasa bahwa aku benar-benar percaya diri untuk hidup sendirian di sini. Jogja yang ramai ternyata tidak seperti bayanganku. Keinginanku untuk hidup bebas terhambat masalah kendaraan. Sesulit-sulitnya aku kesana kemari di Jayapura, tetap tidak sesulit di Jogja. Di sini semua orang melaluinya dengan berkendara. Public transportasi yang ada hanyalah Trans Jogja. Yeah, rasa percaya diri yang kupupuk sejak aku merasa sangat jatuh dalam lubang kegagalan, kembali sirna. Mungkin aku telah berdosa. Yeah, memang aku telah berdosa. Melupakan visi dan misiku untuk larut dalam kesenangan melihat dunia baru. Tahukah, jatuh yang aku alami dulu membuat enggan untuk berlama-lama di dalam kamar sekarang. Aku merasakan kesepian mencengkeramku begitu mencium udara kamar kos. dinding-dinding yang membisu membuatku ingin berlari. Suaraku, suaraku ingin kuteriakkan d...

Pegawai RS* yang tidak paham penggunaan BPJS, salah siapa?

Image
Untuk pertama kalinya dalam hidupku untuk di rawat inap di RS karena masalah kesehatan yang cukup serius. Karena mengalami fraktur cruris tibia fibula, aku harus di operasi. Namun, fatalnya, aku belum membuat jaminan kesehatan sehingga mau tidak mau aku harus membayar sebagai pasien umum sembari keluargaku menguruskan jaminan di BPJS kesehatan. Berharap kelak kartu itu bisa aku gunakan untuk kontrol setelah operasi.  Dua minggu setelah operasi kartuku sudah jadi dan aktif menurut peraturan baru BPJS. Dimana peraturan lamanya adalah kartu aktif setelah 7 hari dari waktu pembayaran dan peraturan barunya adalah kartu aktif setelah 14 hari dari waktu pendaftaran dan bisa langsung aktif tanpa menghitung lagi 14 hari dari waktu pembayaran. Juga, BPJS telah meluncurkan program e-ID untuk peserta BPJS untuk memudahkan peserta tanpa perlu mengantri lebih lama di kantor BPJS.  Penjelasan itu aku dapatkan langsung dari teman yang bekerja di BPJS. Maka dengan percaya diri...

Hujan Bulan Juni : Juni Yang Tabah

Image
Dan diawali dengan melihat salah satu postingan teman dunia maya yang sama-sama menyukai dunia sastra, mataku terpana pada satu judul puisi, Hujan Bulan Juni. Ada apa dengan hujan bulan juni? Bukankah Juni sekarang adalah musim kemarau? Lalu, aku tahu bahwa penulisnya adalah orang sama dengan penulis puisi “Aku ingin”. Meskipun tidak terlalu tertarik dengan dunia puisi (karena puisi buatanku sangat-sangat tidak bagus, haha), tapi ada beberapa puisi dan penulis yang membuatku klepek-klepek dengan kata-katanya. Misalnya Kahlil Gibran dan Sapardi Djoko Damono. Salah satu puisi SDD yang kusuka adalah “Aku Ingin” itu. Awalnya aku kira itu adalah puisi Kahlil Gibran, ternyata bukan. Tapi tak menyurutkan rasa sukaku pada tulisan penyair hebat itu. Nah, setelah membaca puisi Hujan Bulan Juni dan belum tahu artinya apa. Biasanya arti sebuah puisi memang hanya dimengerti oleh si penulis. Sementara pembaca hanya bisa menginterpretasi dengan pengertian mereka sendiri. Seperti...

Entahlah Apa Ini

Aku tahu kalau dia akan berkata seperti itu. Ini memang kesalahanku. Dan pekerjaanku selama hidupku adalah menyusahkan orang lain. kapan aku bisa membayar segala susah yang mereka rasakan karena mengurusku? Karena kekeraskepalaanku? Karena impian-impianku yang terlalu banyak namun belum terwujud. Aku juga tidak meminta kejadian ini. Siapa sih yang ingin kakinya patah? Aku hanya.. hanya.. begitu bodoh sampai tidak memikirkan terlebih dahuluu sebelum belajar motor. Dan ketika kejadian itu terjadi aku tahu bagaimana ekspresi wajahnya. Aku sudah bisa membayangkannya. Aku bahkan membayangkan yang jauh lebih buruk tentang perlakuannya padaku nanti. Yang tidak aku bayangkan adalah bagaimana aku bisa menahan semua rasa sakit di kakiku—daging dan tulang yang terkoyak lalu dipasangi besi yang terasa ngilu dan seperti sebuah mesin saja—dan juga berusaha menerima dengan setulus ikhlas yang terjadi padaku meskipun pedih teriris di dalam dada. Qul lay yushiibanaa illaa maa kataballahu lan...